Apam

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Apam merupakan kue khas dari Aceh dengan bahan tepung beras dan santan yang berbentuk bulat dan menjadi peganan khusus dalam masyarakat Aceh, mulai dari kenduri setelah gempa sampai hukuman bagi pria yang tidak ke mesjid di hari Jumat.

Cara membuatnya, tepung yang bercampur santan dimasukkan ke dalam penggoreng yang diolesi minyak makan. Kadar olesan minyak hanya sebatas cukup untuk diserap satu kue apam. Untuk memakannya diberikan kelapa parut bercampur gula agar apam tidak tawar. Ada juga yang dimakan dengan pisang serta telur kocok.

Membuat kue apam dalam berbagai perhelatan (khanduri) merupakan tradisi dalam masyarakat kampung di Aceh. Sampai sekarang kebiasaan ini masih dipertahankan dalam bentuk khanduri apam (kenduri apam).

Kenduri apam biasa dilaksanakan pada 27 Rajab yang diperingati sebagai hari israk mikraj Nabi Muhammad SAW. Pada malam 27 Rajab, masyarakat desa berkumpul di Meunasah (Surau) untuk mendengar cermah tentang peristiwa israk mikraj yang dialami Nabi Muhammad SAW. Ceramah ini disampaikan oleh seorang Teungku, baik oleh Teungku di Gampong tersebut maupun teungku yang didatangkan dari daerah lain.

H C Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonial mengatakan kenduri apam bermula dari seorang pria Aceh yang ingin mengetahui nasib orang di dalam kubur, terutama tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh malaikat Mungkar dan Nakir terhadap si mayat, serta hukuman yang akan dijatuhkan terhadap si mayat bila tak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kedua malaikat tersebut.

Pria Aceh tersebut berpura-pura mati dan dikuburkan hidup-hidup. Dalam kubur ia pun diperiksa oleh Malaikat Mungkar dan Nakir tentang agama dan amalannya. Karena tak mampu menjawab pertanyaan maka pria tersebut dipukul dengan pentungan besi. Namun pukulan malaikat itu tidak mengenai pria tadi. Dalam kegelapan kuburan, ada sesuatu yang menyerupai bulan yang seolah-olah melindungi pria itu dari pukulan malaikat.

Pria yang pura-pura mati itu kemudian berhasil keluar dari kuburan dan segera pulang ke rumah. Semua anggota keluarga dan sanak famili yang masih berduka terkejut dibuatnya. Isak tangis pun terjadi. Ia kemudian menceritakan pengalamannya dalam kuburan. Benda bulat yang seolah-olah seperti bulan yang menghalangi pukulan malaikat merupakan kue apam (serabi) yang dibuat oleh keluarganya untuk dibagi-bagikan kepada pelayat. Setelah peristiwa itu, maka setiap rumah di Aceh akan memasak kue apam bila ada kerabatnya meninggal.

Kue apam juga sering dibawa pada kenduri-kenduri lainnya, seperti kenduri di mesjid dan meunasah. Warga dengan suka rela membawa kue apam untuk dihidangkan pada kenduri tersebut. Kenduri apam juga dilaksanakan pada hari ketujuh (seuneujoh) orang meninggal. Apam juga sering dibagi-bagi bila ada peristiwa gempa. Alasannya, gempa akan membuat si mayat dalam kuburan terayun-ayun, maka kenduri apam dilakukan untuk menenangkan si mayat.

Selain sebagai kenduri, pembagian kue apam juga ajang bersedekah makanan terhadap sesama warga. Namun dalam kepercayaan masyarakat Aceh, kenduri apam bisa menjadi perantara antara orang yang sudah meninggal dengan sanak familinya yang masih hidup. Makanya kenduri apam dilaksanakan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati jasad leluhurnya yang sudah meninggal.

Namun versi lain menyebutkan, asal usul kenduri apam bermula ditujukan kepada pria yang tiga kali berturut-turut tidak ke mesjid melaksanakan shalat Jumat. Sebagai denda adat, pria tersebut harus membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dana akan dimakan bersama sebagai sedekah. Dengan seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan membuat dirinya malu, maka dari zaman dahulu pria Aceh yang sudah baligh sangat jarang meninggalkan shalat Jumat.

Khanduri Apam (Kenduri Serabi

Khanduri Apam adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh berupa pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apamadalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan dan Apamadalah sejenis makanan yang mirip serabi.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apampada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.

Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok. Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuahbeulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yaknineuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on ‘ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng).

Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat (sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebutApam Leu’eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.

Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apamdiadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selamabuleuen Apam (bulan Rajab) sebulan penuh.

Sejarah Khanduri Apam

Tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan / menyedihkan hati itu, ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (di lhok ngon u).

Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat, seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar, boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu, disamping memohon rahmat bagi orang yang telah meninggal tersebut, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat Jum’at.

sumber

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools