Chik Di Tiro

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

'TENGKU CIK DI TIRO'

'(1836-1891)'


Nama aslinya adalah 'Muhammad Saman' tetapi beliau lebih dikenal dengan nama Tengku Cik Di Tiro. Dilahirkan di Cumbok-Lamlo, Tiro, Aceh, pada tahun 1836. Mengenai pendidikannya, beliau tidak menjalani pendidikan formal tetapi relajar agama kepada ulama-ulama terkenal di Tiro. Itulah sebabnya mengapa beliau dipanggil dengan sebutan Tengku Cik Di Tiro. Tidak itu saja beliau juga memperdalam ilmu agamanya di Mekkah. Ketika Aceh Besar jatuh di tangan Belanda dan kekuatan Aceh makin melemah, Tengku Cik Di Tiro muncul untuk memimpin perang.

Tengku Cik Di Tiro lebih dikenal dengan angkatan perang sabimya. Karena ketangguhan para pasukannya maka di tahun 1881 benteng Belanda di Indrapura berhasil direbut, kemudian atuh pula benteng Lambaro, Aneuk Galong, dll. Belanda terus didesak dan hanya tinggal bertahan saja di dalam benteng di Banda Aceh.

Merasa kewalahan dengan serangan yang dilakukan oleh pemimpin Aceh, maka Belanda segera mendatangkan bala bantuan dengan perlengkapan perang dalam jumlah besar-besaran. Maka pada tahun 1873 Belanda pun memulai aksi balas dendamnya dengan memerangi Aceh, supaya kerajaan tersebut menjadi daerah kekuasaannya. Pada penyerangan pertama pasukan dari Belanda melakukan aksinya namun dapat digagalkan dan memakan korban bagi pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yaitu Mayor Jenderal Kohler. Kegagalan ini membuat Belanda menjadi geram, akhirnya mereka memperkuat barisan pasukannya dengan tembakan-tembakan meriam dari kapal perang yang berlabuh di pantai. Akhirnya keadaan seperti ini membuat Aceh mulai mundur.

Akhirnya Belanda berhasil mengalahkan Tengku Cik Di Tiro dengan cara menyuruh seorang wanita untuk memasukkan racun ke dalam makanannya. Sehingga beliau menderita sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891. Jenazahnya dimakamkan di Indrapura, Aceh. Walaupun Tengku Cik Di Tiro telah meninggal dunia, namun perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda terus dilakukan. Perang terus dilakukan sampai bertahun-tahun lamanya, sampai akhirnya Belanda baru bisa menguasai Aceh pada tahun 1904 dengan Plakat Pendeknya. Kegigihan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro dalam membela bangsa Indonesia membuat pemerintah RI mengangkat beliau sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan pada tanggal 6 Nopember 1973 sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973.


Sumber:Kerta Wijaya. 2007. Sejarah Perjuangan 130 Pahlawan dan tokoh Pergerakan Nasional. Reset Agung: Jakarta. Hal. 253-254


'Chik di Tiro Inisiator Perang'

Pada masa concentratie stelsel di Aceh Besar, pantai utara, masa kepemimpinan Aceh dipegang oleh ulama. Ini terjadi sejak figur kesultanan dan ulee balang dilanda krisis kepemimpinan akibat perarjg Aceh pertama pada 1873. Mereka kehilangan pengaruh dan kehidupim sosial karena aksi blokade laut dan pemboman Belanda. Ada yang kehilangan pendapatan sehingga terpaksa berkompromi untuk mempertahankan eksistensi.

Sebagai penggantinya kalangan ulama menjadi figur moral spirit Sejak awal kehadiran Belanda, para ulama sudah menentang dan sama sekali tidak berkompromi. Perpecahan di Aceh antara bangsawan atau ulee balang yang bersikap moderat dan terkadang kompromistis terhadap pendatang asing dengan ulama yang tetap radikal dan berhaluan garis keras. Habib yang berpengaruh kuat di kalangan ulama pernah menyatukan kalangan bangsawan dengan ulama.

Setelah Sultan Mahmud Syah mangkat karena kolera, muncul Teungku Chik di Tiro sebagai figur memimpin perang Jihad. Teungk Chik menjadikan Keumala sebagai markas besar. Dia berkeliling ke pantai utara dan Aceh Besar mengkampanyekan perang jihad dan merekrut banyak warga menjadi pasukan. Teungku Chik sukses mendapat gelar cap sikeureung langsung dari sultan sebagai pemimpin agama tertinggi di Aceh. Dengan gelar itu, Teungku Chik menjadi kebal dari rasa iri kalangan ulee balang yang kehilangan kredibilitas. Kepemimpinan dan pengaruh Teungku Chik semakin meluas di seluruh Aceh yang dikenal ahli teori dan ahli strategi perang gerilya.

Perang Aceh mewarnai perbendaharaan sastra Aceh dalam bentuk ceritera-ceritera kepahlawanan dalam bahasa Aceh. Hikayat Perang Sabil termasuk kisah yang populer membangkitkan semangat berperang melawan kezaliman Belanda. Teungku Chik di Tiro, Teungku Chi Kutakarang dan kalangan ulama lainnya giat menulis membakar semangat api perlawanan yang disebarluaskan. Kalangan penyair sekuler menggubah berbagai kisah peperangan dengan gaya humoristic sebagai penghibur lawakan dan menggelikan tentang semua kebijakan pong diterapkan oleh Belanda. Syair-syair ini sering digaungkan pada berbagai acara keramaian di meunasah (masjid) pada malam hari. Dengan cara itu mempermudah Teungku Chik merekrut pasukan Aceh png mengubah perjuangan rakyat sejati di bavvah kepemimpinan alim ulama dan tedepas dari pemimpin adat yang retak.

Teungku Chik memperoleh sejumlah dana besar melalui rcngumpulan hak sabil yang merupakan bagian dari zakat untuk mendanai perang jihad. Dengan dana ini, dia memberi imbalan kepada penduduk yang mencuri senjata Belanda. Pada tahun 1886, pasukan Aceh dengan semangat fanatisme Islam berhasil melancarkan empat serangan menembus garis pertahanan Belanda.

Pada Oktober 1887, Teungku Chik bersama 400 pasukan berhasil menembus pertahanan Belanda setelah menyamar dan menyusup dengan alasan menziarahi makam Syiah Kuala di Banda Aceh. Pada tahun 1888, Chik Kutakarang menghancurkan jalur-jalur trem, kawat telegram dan kompleks perumahan perwira Belanda dengan dinamit. Teknik baru yang dipelajari dari seorang prajurit Belanda yang membelot ke Aceh. Kondisi Aceh menjadi gawat. Belanda mencabut pemerintahan sipil kc pemerintahan militer setelah Menteri Koloni Belanda Sprenger van Eyk dicopot jabatan dan diganti oleh Kolonel H Demmeni. Aceh bembali berstatus Daerah Operasi Militer.

Pada Januari 1891, Aceh berduka karena Teungku Chik di Tiro dan Panglima Polem wafat. Serangan gerilya oleh pasukan Aceh berkurang. Aceh mengalami krisis kepemimpinan. Habib Samalanga yang memperoleh wewenang dari sultan gagal menggalang kekuatan. begitu juga usaha Chik Kutakarang atau Mat Amin, putra Teungku Chik di Tiro. Semua dikalahkan oleh pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil hingga timbul perpecahan. Faktor-faktor ini yang menyebabkan Belanda menang di Banda Aceh.


[[Sumber : Harry Kawilarang, Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki. Bandar Publishing : Banda Aceh, 2008. Hal, 120-121.]]

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools