Cut Ali
Dari AcehPedia
Cut Ali adalah seorang pejuang Aceh yang tangguh dalam berperang melawan agresi Belanda. Sebagai salah seorang panglima dari pejuang Aceh, ia memiliki kemampuan ghaib dengan doa-doanya kepada Allah. Cut Ali merupakan spirit perjuangan yang tiada tara. Ia berperang bersama pejuang Aceh secara gerilya melawan Belanda. Taktik gerilya yang diterapkan Cut Ali berhasil membuat ketegangan dipihak Belanda kala itu. Ketegangan yang oleh penulis Belanda, H C Zentgraaf disebutkan hampir-hampir tak terpikulkan.
Pada tahun 1924 banyak terjadi perlawanan-perlawanan di daerah Selatan, pesisir Barat, daerah Utara dan pesisir Timur. Di daerah pesisir Barat, daerah perlawanan memerangi Belanda yang paling lama bertahan karena semangat jihat membuat para serdadu Belanda kewalahan. Para pejuang Aceh menyerbu dengan sepenuh diri. Bertarung demi kepentingan bersama, melawan Belanda. Hal itulah yang membuat patroli Belanda sering mengalami kekalahan dan susah menaklukkan Aceh sepenuhnya.
Dalam memburu gerilyawan Cut Ali, Belanda terus mengirim opsir-opsirnya ke Aceh, yakni panglima-panglima marsose kawakan ke daerah pesisir Barat. Mereka disambut oleh pejuang-pejuang Aceh yang hanya bersenjatakan tajam belaka namun dengan gagah berani terus melakukan perlawanan.
Zentgraaff menggambarkan Cut Ali sebagai seorang tokoh jantan berwatak, yang memiliki jiwa ksatria, yang membuat lawan pun mengaguminya. Pada masa itu ada seorang Kapten, yang menjadi Komandan sebuah bivak militer di Ladang Rimba, yang tidak punya jiwa militer, serta enggan bertempur karena takut terhadap pasukan Cut Ali. Cut Ali kemudian mengirimkan surat yang berisikan tantangan kepada perwira Belanda yang pengecut tersebut. Tapi Kapten Belanda itu tidak berkutik. Hal itu pula yang membuat wibawa Cut Ali di mata rakyatnya semakin besar. Seluruh penduduk merasa puas terhadap keberanian Cut Ali yang telah membuat perwira Belanda mengurung diri dalam bivaknya, takut keluar untuk patroli, apalagi berperang secara frontal.
Cut Ali wafat pada Mei 1927, pimpinan besar barisan perlawanan Aceh di pesisir Barat itu syahid, setelah ditembak seorang marsose Belanda bernama Gosenson dalam sebuah pertempuran. Berikut sepenggal kutipan doa Cut Ali dari doa-doa religius yang menyelamatkanya dari serangkaian pertempuran.
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang.
Allah adalah pelindung saya.
Tiada tuhan melainkan Allah,
Malaikat-malaikat Jibril, Mikail, dan israfil
Berada pada tanga kanan dan tangan kiri saya
Dimuka, di belakang, di atas, dan di bawah saya.
Saya dikelilingi oleh kesaksian
Tiada tuhan selain Allah,
Saya pergi dengan kasih sayang Allah,
Yang menyebabkanku berhasil dalam alam ghaib
Tuhanku adalah Allah.
