DODAIDI

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

==DODAIDI (Ritual Pengantar Tidur)

Dodaidi merupakan lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan orang tua di Aceh untuk anaknya. Dodaidi selain untuk menidurkan anak, ada pesan moral lain yang terkandung di dalamnya. Do do da idi lahir jauh hari sebelum tsunami raksasa menggulung Aceh, akhir tahun 2004. Malah, kata sebuah kisah, berabad lalu, lagu itu sering dilantunkan ibu susu Sultan Iskandar Muda untuk menidurkan bayi kecil yang kelak jadi sosok perkasa itu. Ya, Do do da idi adalah lagu yang lahir dari tradisi panjang.

Daftar isi

syair Dodaidi

1. Laa ilaa ha illallah… Muhammadunr Rasulullah… Laa ilaa ha illallah… 2. Kalimah taybah, keu payong pagee Meu seulaweut keu Rasulullah 3. Nak geu kubah jalan di akhe 4. Beurijang rayek si gam mutuah… 5. Jak peulupaih nibak ceulaka 6. Jak prang maksiet beubagah-bagah 7. Bekna gundah nibak hatee 8. Bek takot hai aneuk mutuah 9. Bek ta surot langkah peudong agama 10. Le that jaroe nyang meudarah 11. Gabuek lam gapaih man sigom donya 12. Ka lawan ureung peu hanco ngoen buet teugaih 13.Bek le meu gundah bah pih nyawong keulua Laa ilaa ha illallah… Muhammadunr Rasulullah… Laa ilaa ha illallah… Muhammadunr Rasulullah…

Arti dari lirik di atas: 1. Kalimah taybah, untuk payung nanti di akhirat. 2. Berselawat kepada Rasulullah. 3. Biar disimpan jalan di akhirat. 4. Cepatlah besar, Anakku Sayang. 5. Pergi lepaskan kampung dari celaka. 6. Pergi perangi maksiat cepat-cepat. 7. Jangan pernah gelisah di dalam hati. 8. Jangan takut, Anakku Sayang. 9. Jangan mundurkan langkah demi agama. 10. Banyak sekali tangan yang berdarah-darah. 11. Sibuk dengan lemak di seluruh dunia. 12. Lawanlah penghancur dengan kekuatan. 13. Jangan pernah gundah, biarpun nyawa jadi taruhannya.


Anak dalam Adat Aceh dan dalam Rumah Tangga

Dalam kultur adat Aceh, anak dalam rumah tangga atau keluarga dapat dilihat dari dua dimensi alamiah, yaitu : pertama, anak sebagai buah alami (sunnatullah), hasil kekuatan rasa kasih sayang suami isteri (mu’asyarah bil ma’ruf) sebagai mawaddah dan rahmat Allah SWT untuk memperkuat bangunan hubungan rumah tangga yang rukun damai, bahagia dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Islami. Kedua, Anak sebagai kader penerus generasi, pelindung orang tua dikala lemah dan pelanjut do’a (ritual communication) manakala orang tuanya meninggal dunia memenuhi panggilan Khalik sebagai penciptanya

Bagaimana hubungan naluri batiniah dan jasmaniah antara orang tua dengan anak-anaknya dapat ditemukan dalam nuansa ungkapan pantun-pantun atau yang dikenal dengan Peurateb Aneuk (Dodaidi) merupakn sebuah kebiasaan rumah tangga orang Aceh di gampong-gampong. Seorang ibu sambil mengayun-ayunkan ayunan bayi terbiasa bersenandung dengan syair-syair yang penuh pesan moral, salah satu contoh syair peurateb aneuk seperti di bawah ini:

Jak kutimang bungong meulu, gantoe abu rayeek gata Tajak meugoe ngon ta mu’u, mangat na bu tabrie keu ma Jak kutimang bungong padei, beu jroeh piei oh rayeek gata Beu Tuhan bri lee beureukat, ta peusapat puwoe keuma Jak ku timang bungong padei, beu jroh piee rayeek gata Tutoe beujroh bek roh singkei, bandum sarei ta meusyedara

Nyanyian pantun-pantun tersebut, bahkan banyak narit-narit maja lainnya, seperti ” Ta’zim keu gurei meuteumeung ijazah, ta’zim keu nangbah tamong syuruga”,yoh watei ubit beuna ta papah, beik jeut keu susah oh watei raya”.

Biasanya narit maja disyairkan atau dilagukan oleh orang tua sejak anak dalam ayunan dengan suara yang merdu. Pesan dan bimbingan itu secara naluri membuat anak terbuai nikmat dalam ayunan. Nilai pesan itu mengandung makna bahwa seorang anak harus bersiap membangun hari depan dan bertanggung jawab dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya kepada orang tuanya. Tali hubungan itu akan terbina akrab, manakala yang mengasuhnya adalah ibu kandung sendiri. Mungkin akan berbeda bila yang mengasuh itu orang lain di luar lingkungan budaya keluarganya, akan membuat si anak kehilangan korelasi dengan bangunan prilaku orang tuanya

Pesan semacam itu memberi makna betapa besar rasa kasih sayang, tanggung jawab dan harapan orang tua dalam mengasuh anaknya, mengantarkan mereka sampai kejenjang kemampuan membangun kehidupan. Dengan demikian, diharapkan anak nantinya betul-betul menjadi pelindung dan membantu orang tuanya, dikala mereka berada dalam keadaan lemah dan uzur (hubungan vertikal timbal balik dan tidak ada elemen yang disia-siakan). Tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah memelihara kesehatan dan membesarkannya, memberi pendidikan, mengasuh akhlak dengan ibadah dan pendidikan al-Qur’an, membimbing dan membina tatanan budaya adat sebagai patron pembangunan harkat dan martabat identitas keacehannya (identitas plus dan kompetitif dengan adat atau kultur lainnya). Tanggung jawab yang melekat pada orang tua, adalah sepanjang anak belum dewasa. Anak dewasa dalam kultur adat Aceh, apabila telah mampu mandiri atau telah berkeluarga.

sumber

H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum dalam artikel "Anak dalam Adat Aceh"

sumber

http://blogs.fanbox.com/

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools