Habib Abdurrachman al-Zahir
Dari AcehPedia
'Habib Abdurrachman al-Zahir'
Petualangan Habib dari Arab
Intrik politik itu terjadi ketika Aceh dipimpin oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah yang dihajar kemelut dengan kerajaan-kerajaan kecil di wilayahnya seperti sengketa pembagian pemasukan bea cukai sungai yang dikenakan pada lada dan pinang yang diekspor. Dilain pihak, pemilik perkebunan lada yang membuka lahan di Aceh Tamiang mengirimkan hasil produksi langsung ke Penang karena lebih dekat cara ini diikuti pemilik perkebunan Simpang Ulim Aceh Timur yang mulai dikenal sebagai pengekspor lada. Seolah pemilik kebun pala yang juga raja di Simpang Ulim bernama Teuku Muda Nyak Malim. Dia satu-satunya raja yang berniaga langsung ke Penang tanpa uang muka yang biasanya dilakukan oleh para tengkulak China. Teuku Muda adalah muslim yang taat, saleh dan tegas dalam pendirian. Dia langsung menghukum mati warga yang mengisap ganja di wilayahnya. Sebaliknya, Teuku Chik dari Idi keturunan India sangat ambisius dan ingin memiliki semua kekayaan yang dimiliki Sultan Deli. Dilain sisi, Tengku Chik tertekan oleh kemajuan yang diraih Teuku Muda. Untuk itu, dia meminta bantuan Belanda yakni Residen Riau. Ini menjadi awal intervensi Belanda terhadap krisis politik yang melanda Aceh antara barisan patriot Aceh melawan kelompok pro Belanda. Di Aceh Besar kepemimpinan Sultan Ibrahim Mansur Syah sangat dibatasi oleh pengaruh kekuasaan para ulee baling. Pada tahun 1850-an terjadi pertarungan antara Sultan Ibrahim Mansur Syah dengan iparnya Sultan Sulaiman. Dari konflik itu, Sulaiman kalah, tetapi adiknya, Teuku Ba’et yang berkuasa di Mukim tidak ingin terabaikan dengan Ibrahim hingga Sulaiman wafat pada 1857 dan digantikan oleh anaknya yang masih kecil Mahmud Syah. Panglim Polem yang berkuasa di Aceh Besar berusaha meredakan keadaan. Walaupun Polem berlawanan dengan Ibrahim dan akrab dengan Teuku Ba’et, tetapi Polem tidak ingin berkonfrontasi. Begitu pula dengan Sultan Ibrahim, Polem member hak otonomi tradisional kepada dua Sagi di wilayah kekuasaannya yang dimiliki oleh para ulee baling sehingga system pemerintahan terasa musyawarah daripada hirarkis kekuasaan. Adat-istiadat Aceh dari waktu ke waktu mengalami pengikisan akibat kehadiran pendatang asing yang ambisius terutama dari turunan India dan Arab. Mereka datang dan menetap dengan menjadikan Islam sebagai modal legitimasi. Bukan menciptakan solidaritas atau loyalitas kebersamaan.
Habib Abdurrachman al-Zahir (1832-1896) mewarnai sejarah Aceh. Habib berlabuh di Banda Aceh pada tahun 1864 berbekal rekomendasi dari Maharja Johor di Semenanjung Malaya, Habib (gelar kehormatan bagi Said di Arab yang juga berkembang di Aceh) lahir di Hadramaut dan memperoleh pendidikan terbaik dalam agama Islam di Mesir dan Kalikut. Di masa muda, Habib sudah mengembara ke berbagai negeri di Timur Tengah dan India. Dengan bekal keuangan yang banyak dari hasil perkawinan politik di berbagai tempat yang disinggahi, disertai pengetahuan agama yang luas dan kecerdasannya, ia berlanglang buana ke Italia, Prancis dan Jerman dalam usia 30 tahun. Dalam perjalanan ke Asia Tenggara, Habib pergi melalui Turki, India dan tiba di Singapura pada 1862. Di Singapura Habib muda bekerja di Maharaja Johor. Setelah dua tahun di Johor, dia ke Aceh dan sangat dihormati karena ada rekomendasi dan juga keturunan orang suci. Kelebihan lainnya, dia alim, cerdas sehingga disegani kalangan cendikiawan istana dan diangkat menjadi Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dalam mengatasi konflik petinggi Aceh, Habib berhasil mendamaikan Teuku Ba’et dengan Sultan Ibrahim dan merehabilitasi pengakuannya terhadap Mahmud, Putra Sultan Sulaiman. Sultan Ibrami begitu menghormatinya hingga Habib diberi berbagai penghargaan dan kedudukan sebagai pimpinan disejumlah pengadilan yang khusus dibentuk dan berwenang mengadili semua perkara yang menyangkut hukuman agama. Faktor-faktor ini memberi peluang bagi Habib untuk memperbesar pengaruhnya sebagai penegak hukum dengan menggunakan Islam menghadapi hukum adat dan penegak kemurnian Islam melawan korupsi di kalangan orang Aceh. Bakat dan ambisi Habib tidak hanya terbatas pada agama. Dia memperkuat kedudukan melalui perkawinan politik seperti biasanya dilakukan ketika berlanglang buana ke negeri-negeri lainnya hingga meraih uang yang banyak seperti mengawini janda Sultan Sulaiman Habib berhasil membangun barisan pengikut yang lebih besar dan luas yang tidak pernah dimiliki pemimpin Aceh dimanapun. Hal ini membuktikan dirinya dapat mempersatukan semua pihak yang terpecah-pecah dengan membantu kembali Mesjid Raya Baiturrahman yang lama terbengkalai akibat perang. Perangai Habib yang congkak dan berambisi dengan akal bulusnya menimbulkan antipasti dikalangan bangsawan dan cendikiawan. Muncul kelompok penentang orang asing yang dipimpin oleh Teuku Malikul Adil hakim agung turun-menurun. Gerakan ini berkembang ketika Habib ke luar negeri untuk mencari dana pembngunan Mesjid Raya. Mereka memanfaatkan berbagai kecurigaan Sultan Ibrahim kepada Habib yang sudah memiliki pengaruh luas. Usaha ini mendatangkan hasil. Ketika Habib kembali dari luar negeri, popularitasnya anjlok. Selama dua hingga tahun, Habib mencoba untuk memperbaiki posisi, tetapi gagal hingga dia kabur ke Mekah. Selam disana, Habib giat memperluas relasi dengan berbagai pihak yang memiliki koneksitas dengan Aceh terutama yang berkaitan dengan agama. Usaha ini mendatangkan hasil dan dengan modal sebagai utusan dari Timur Tengah, Habib berhasil memulihkan pengaruhnya. Pada tahun 1868, Habib bersama 60 bangsawan Aceh yang dibentuknya mengirim permohonan bantuan militer kepada Turki untuk melawan Belanda. Di Mekah, Habib sudah dikenal kerena setahun disana sebelum kembali ke Aceh. Dengan modal surat-surat referensi dari Syarif di Mekah, Pasha di Jeddah dan seorang mantan gurunya, Habib berhasil mendekati Sultan Ibrahim dan kembali dihormati masyarakat beberapa bulan sebelum pemerintaham Sultan Ibrahim berakhir.
Sumber : Harry Kawilarang. Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki. Bandar Publishing : Banda Aceh, 2008. Hal.46
