Hasil Hutan
Dari AcehPedia
Hasil hutan Aceh abad XVI
Sumber-sumber sebelum abad XVI melukiskan Sumatra Utara sebagai daerah yang kaya akan hasil bumi, baik tumbuh-tumbuhan maupun tambang. Pelabuhan-pelabuhan dagang di pantai terutama hidup dari perdagangan hasil bumi itu yang dibawa dari pedalaman dan dijual kepada pedagang lintas jauh. Sumber-sumber Arab menyebut kapur dari "Fansur" (mestinya Barus), sumber-sumber Cina menyebut belerang dari Nakur . Perdagangan lama itu belum hilang pada abad XVII. Sekalipun hasil bumi yang baru seperti lada telah merebut, tempat pertama, Aceh masih terus mengadakan perdagangan tetap dengan peng-huni hutan di pedalaman. Yang diketahui orang Eropa mengenai perdagangan ini sangat samar, dan apa yang mereka ceritakan pada umumnya mereka ketahui dari cerita orang .
Untunglah di tengah-tengah Hikayat Aceh kami temukan suatu bagian yang membela kebesaran kerajaan dan kekuasaannya. Si pengarang tak lupa menyebut satu per satu, pada tempatnya dan dengan cara yang kadang-kadang puitis, semua bahan yang mahal itu yang dapat dikuasai Aceh karena keunggulannya di-akui pedalaman: " ... emas merah 24 karat dan belerang yang bagus sekali di dalam tambang-tambang yang memberi hasil tak habis-habisnya, minyak tanah yang bagus sekali di dalam danau-danau yang tak kering-keringnya, dan segala sesuatu yang di-hasilkan hewan di hutan belantara: guliga dan kesturi, madu dan malam; dan segala sesuatu yang dihasilkan pohon di hutan: kapur dan kemenyan, yang putih dan yang hitam, kayu celembak dan kayu gaharu dan kayu cendana, damar dan cabai dan temukus dan semua hasil yang datang dari tambang dalam tanah atau dari pohon di hutan" .
Mengenai orang pedalaman yang mengumpulkan hasil hutan itu dan cara membawanya ke Aceh, keterangannya lebih lang-ka . "Pedalaman pulau itu, kata Beaulieu, didiami orang asli yang mempunyai bahasa sendiri yang berbeda sekali dengan bahasa Melayu; terutama dekat-dekat Aceh, mereka tunduk kepada beberapa raja yang biasanya saling berperang". Ada sebuah teks yang ditulis kemudian dan yang menambahkan keterangan yang menarik mengenai tulisan mereka: "Pekerja tambang itu mempunyai bahasa khusus dan menulis dari kiri ke kanan, atau .ebih tepat menggores dengan cungkil huruf-huruf mereka pada oagian bambu yang halus" ; yang dimaksudkan jelas tulisan Batak yang berasal dari India. Keterangan yang kita dapat dari sumber-sumber Melayu tidak lebih banyak. Hikayat Aceh sampai dua kali berbicara tentang "orang Batak". Sultan Mughul raja Priaman - yang iri hati terhadap saudaranya 'Ali Ri'ayat Syah dan yang ingin merebut Aceh dengan cara yang curang membuang sauh di Fansur dan minta nasehat dua orang Batak, Datu Tenggaran dan Datu Negara yang termasyhur karena kekuatan gaibnya "ilmu sihir dan hikmat". Kata mereka, mereka dapat menaklukkan musuh hanya dengan mantera mereka; Sultan puas dan menerima mereka sebagai pengikut. Pada suatu hari Iskandar Muda diiringi semua pengikutnya sedang bersenang-senang berburu banteng waktu seorang Batak tua muncul di tengah jalan, menegurnya dengan sebutan "tuan kita" dan mengusulkan akan membunuh binatang itu hanya bersenjatakan sebilah gedubang sejenis kelewang : sang raja yang ingin melihat perbuatannya, menyuruh berikan senjata yang diminta kepadanya, tetapi segera setelah memegang senjata itu, orang Batak tadi bukannya menjalankan pekerjaannya tetapi menghilang ke dalam hutan dan menggaibkan diri. Kedua, berita itu amat tidak lengkapnya ; paling-paling dapat dikatakan bahwa orang Batak ditampilkan tidak terlalu simpatik.
Akan tetapi meskipun hubungan emosional bahkan juga hubungan administratif agaknya tidak terlalu akrab, hubungan dagangnya rupanya terus berlangsung. Beaulieu menceritakan hasil-hasil hutan tadi yang ditambahkannya dengan beberapa keterangan lebih lanjut yang bermanfaat: Minyak tanah: "Di Deli terdapat sumber minyak yang mereka- anggap tak bakal bisa dipadamkan apabila dibakar, dan bisa terbakaf di laut: raja Aceh dengan minyak itu membakar dua kapal Portugis yang sedang diperanginya 8 atau 10 tahun yang lalu di dekat Malaka . Belerang (tanah cempaga): "Enam jam dari Aceh, ke arah Pedir [Pidi'], ada gunung tinggi meruncing yang banyak meng-hasilkan belerang, seperti juga salah sebuah pulau yang menutupi teluk Aceh, Pulo-vay namanya, yang memenuhi kebutuhan hampir semua negeri Timur untuk membuat mesin." Kapur: "Di Singkel terkumpul setiap tahun sejumlah besar kapur yang dengan tekun dikumpulkan oleh mereka dari Surat dan iari pantai Koromandel. Kapur itu mereka beli dengan harga 15, 16 real sekati, timbangan 28 ons." "Orang Barus seperti orang Bataham, juga mengumpulkan banyak kapur yang dianggap yang paling baik, tetapi jumlahnya hanya sedikit." Menyan: "(Orang Barus) menghasilkan banyak menyan yang tersebut menyan Barus dan terkenal di semua pulau; yang paling dihargai ialah yang paling putih warnanya ; tidak ada uang lain selain obat bius tersebut yang mereka pakai di pasar untuk membeli apa pun juga." Emas: Mengenai perdagangan emas (emas merah) yang dibicarakan Hikayat Aceh) lebih banyak yang kami ketahui. Meskipun orang Eropa sama sekali tidak dapat mendatangi tambang-tambang tempat emas itu digali, namun mereka telah mencoba mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin mengenai logam yang sangat merangsang daya khayal mereka.
Aceh tidak menguasai tambang-tambang yang dibawahi oleh seorang raja "antara Tiku dan Minangkabau, yang lebih berkuasa dari semua raja lainnya bersama karena ia menguasai bagian terbesar dari tempat-tempat emas ditemukan di pulau itu dan yang jumlahnya memang besar". Yang diolah hanya aluvium dan lapisan-lapisan pada permukaan tanah: "Yang mereka kumpulkan hanyalah yang ada di alur hujan dan beberapa parit kecil yang mereka gali di tempat-tempat tertimbunnya tanah longsor." Ada kalanya dengan demikian mereka temukan bungkal-bungkal yang besar ukurannya, sebesar yang pernah dilihat Tavernier di Negeri Belanda", tetapi "pada umumnya emas itu ber-butir dan bergumpal kecil" yang hanya sedikit sekali dijadikan batangan. Titernya "sama seperti ecu Perancis, tak sebaik dukat dari Kairo". Orang Aceh "menukarnya kepada orang-orang yang mereka kenal baik di daerah Minangkabau dengan beras, senjata dan kain katun, seperti juga kepada orang Priaman dengan lada, garam. baja dari Masulipatam dan kain dari Surat" .
Pada zaman Dampier, perdagangan itu pasti tidak berkurang: tetapi oleh karena persaingan makin besar, pengawasan menjadi lebih ketat. Maka sebagai akal yang kuno, mereka sebarkan cerita-cerita yang mengerikan tentang orang gunung supaya pencari-pencari yang terlalu berani tidak meneruskan usahanya: "Saya diceritakan bahwa hanya orang Muslim mendapat izin pergi ke tambang-tambang; bahwa sulit sekali dan berbahaya sekali kalau orang melintasi pegunungan sebelum sampai ke tambang itu, karena tak ada satu pun jalan lewat pegunungan yang amat terjal itu sehingga pada tempat-tempat tertentu orang terpaksa me¬makai tali untuk naik atau turun; bahwa pada kaki gunung-gunung itu ada penjagaan serdadu yang menghalangi orang kafir pergi ke tambang dan yang memungut bea."
Perdagangan tersebut terutama dilakukan oleh budak. Mereka memuatkan hasil yang mau diperdagangkan (pada tahun 1688 "pakaian dan minuman keras") ke atas kapal-kapal yang dari Aceh berlayar ke salah suatu pelabuhan di pantai barat; "sesudah itu mereka mendarat lalu memakai kuda untuk membawa barang mereka ke kaki pegunungan" .
