Kue dan Keripik Aceh

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Lampisang, Aceh Besar, adalah sebuah desa permai dimana rumah-rumah penduduknya sebagian besar adalah rumah panggung tradisional Aceh yang terbuat dari kayu. Desa ini agak terlindungi dari serangan hebat tsunami karena ada bukit-bukit yang mengelilinginya. Tapi air mencapai masuk kedalam desa tersebut dengan kekuatan yang cukup untuk menghanyutkan hampir semua harta benda penduduk. Semua orang berhasil menyelamatkan nyawa mereka dengan naik ke atas bukit sehingga Lampisang beruntung tidak ada korban jiwa meninggal.

Sosok wanita pembuat kue dan keripik aceh
Sosok wanita pembuat kue dan keripik aceh
Bagi para wanita Lampisang, kue dan keripik tidak hanya berfungsi sebagai makanan lezat semata. Wanita Lampisang sering kali menambah penghasilan keluarga dengan cara membuat kue, keripik, membuat sulaman dan jahitan khas Aceh. Hidup tidak pernah mudah bagi komunitas para petani ini. Namun kini dengan banyaknya para pria yang masih menganggur akibat dampak tsunami, seringkali para wanitalah yang berinisiatif dalam mencari pendapatan yang dibutuhkan bagi keberlangsungan keluarga.

Wanita Lampisang saling bersatu dan membantu satu sama lain. Pembuatan kue-kue dan keripik dikerjakan di sebuah rumah dan wanita-wanita itu selalu datang berombongan ke rumah tersebut untuk bekerja. Sebagaimana dalam pandangan Ibu Ana, seorang anggota masyarakat, yang sembari dengan penuh semangat meratakan setumpuk adonan keripik , mengatakan: “Adalah jauh lebih baik kalau kami bekerja secara bersama-sama. Kami bisa saling ngobrol dan tertawa. Kalau sendiri saya menjadi ngantuk dan bosan.”

Keripik dibuat dengan memotong-motong , merebusnya sehingga kemudian berbentuk bubur. Bubur itu diratakan dalam bentuk bulatan-bulatan tipis dan dikeringkan dibawah sinar matahari diatas tikar tradisional daun palem ‘ble’ yang dibuat oleh seorang wanita tua dari desa tersebut. Kadang kala garis-garis terang dari pewarna makanan ditambahkan sebagai cap dagang bagi desa tersebut. Keripik yang sudah dikeringkan dengan sinar matahari tersebut kemudian dijual; kendati masih harus digoreng terlebih dahulu sebelum bisa dimakan. Ibu Ana membuat keripik hingga 400 lembar setiap harinya dengan nilai pasar sejumlah Rp. 40.000 atau sekitar US 4 dollar. Dengan pendapatan ini dia menyokong suaminya – yang telah kehilangan pekerjaan sebagai supir karena perusahaannya yang dulu masih belum membuka usahanya kembali – dan dua anaknya yang berusia sekolah,13 tahun dan 16 tahun. Suaminya kini membantunya dalam usaha keripik tersebut yang hasilnya mereka perlukan untuk membeli makanan dan membayar uang sekolah anak-anak. Ibu Ana bahkan bisa menabungkan sedikit uang dan ini membuatnya bangga.

Seorang wanita energik lainnya di Lampisang adalah Wati. Gadis berusia 23 tahun ini bersama ibunya - Kartini (45) - dan neneknya memiliki keahlian khusus dalam membuat kue ‘Bolu Boi’. Kue bolu boi dibuat dari adukan sederhana tepung, air, gula, telur dan penyedap rasa vanilla dan dipanggang dengan cara tradisional diatas api tempurung. Kue itu adalah makanan favorit di daerah sekitar Lampisang. Wati menerima pesanan dari seluruh desa tetangga dan dari Banda Aceh, ibu kota Aceh. Dialah yang menjalankan usaha tersebut dan yang memegang rekening bank keluarga tempat dimana mereka menyimpan tabungan mereka sebelum kejadian tsunami tersebut. Kadang kala keripik yang laku terjual per hari mencapai hingga 100 kantong; dengan musim puncak terjadi selama bulan Ramadhan yaitu 500 kantong per harinya. Satu kantong berisikan 10 kue kecil dan dijual seharga Rp. 3.500 (US 0,4 dollar). Untuk saat ini, pendapatan yang diperoleh dari menjual kue Bolu Boi telah menghidupi Wati, orang tua, kakek-nenek dan saudara-saudaranya; sebuah keluarga yang keseluruhannya terdiri dari 8 anggota keluarga. Ketika ditanya apakah Wati punya rencana untuk menikah dan membentuk keluarga sendiri, mengikuti kebiasaan wanita Aceh yang seusianya, dia tertawa dan menimpali “Belum. Saya masih terlalu sibuk mencari uang buat keluarga saya!”.

Ibu Ana dan Wati adalah contoh para wanita yang terlibat dan secara proaktif mengambil bagian dalam program Mata pencaharian Mercy Corps di Aceh. Menyokong mata pencaharian wanita utamanya adalah penting karena itu menyangga pendapatan dan penghasilan keluarga dan sering digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak. Uang yang diperoleh para wanita itu memberikan mereka kendali dan kemandirian dalam hidup mereka.

Kaum wanita dari suatu desa – sebagaimana dalam kasus ini di Lampisang – membentuk sebuah kelompok dan mengajukan proposal kepada MercyCorps memohon bantuan yang memungkinkan mereka membeli peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk memulai kembali usaha rumah tangga mereka. Sebagai bagian dari program tersebut, semua anggota kelompok telah berjanji untuk menanamkan iuran para anggota menjadi dana bergulir yang akan digunakan sebagai kelompok tabungan. Di Lampisang, 11 pembuat kue, 11 pembuat keripik dan 41 anggota dari sebuah kelompok penjahit telah mengajukan permohonan untuk bantuan kelompok tersebut.

Dukungan MercyCorps tidak hanya sekedar menyediakan dana yang dibutuhkan para wanita tersebut dalam memulai kembali usaha mereka. Bagi kelompok di Lampisang yang berspesialisasi dalam jahit-menjahit MercyCorps mendapatkan penawaran khusus dengan harga yang lebih murah dari para pedagang yang menjual mesin-mesin yang dibutuhkan.

Di Lampisang, kue dan keripik bukanlah sekedar cemilan yang lezat; namun merupakan sesuatu yang dapat mengubah nasib para keluarga.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools