Lahan Gambut

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari
Kebakaran hutan
Kebakaran hutan
Setiap tahun jutaan orang di Asia Tenggara menderita akibat polusi asap yang menyesakkan. Polusi asap menjadi penyebab dari sepertiga dari kerugian ekonomi total akibat kebakaran hutan pada tahun 1997/98 yang mencapai 800 juta US$. Secara politis, polusi asap lintas-batas yang merugikan negara-negara tetangga telah menjadi isu yang sangat kontroversial.

Data-data dan penelitian yang baru menunjukkan bahwa 60% dari polusi asap di Indonesia, termasuk emisi karbon, berasal dari kebakaran di lahan-lahan gambut yang menutupi hanya 10-14% dari daratan Indonesia. Karena itu, mencegah terbakarnya lahanlahan gambut tersebut akan sangat mengurangi polusi asap.

Pencegahan kebakaran menjadi semakin penting karena pemadaman kebakaran di lahan gambut sangat problematis. Cara terbaik untuk mencegah kebakaran di lahan gambut adalah dengan cara mengkonservasi lahan tersebut dalam keadaan alaminya karena (setelah terbakar) mereka tidak dapat direhabilitasi dan kondisi alaminya yang ‘tahan api’ tidak dapat diciptakan kembali.

Lahan gambut (kadang-kadang disebut rawa gambut) terbentuk dimana tanaman-tanaman yang tergenang oleh air terurai secara lambat. Gambut yang terbentuk terdiri dari berbagai bahan organik tanaman yang membusuk dan terdekomposisi pada berbagai tingkatan. Ciri-ciri khas dari suatu lahan gambut adalah kandungan bahan organiknya yang tinggi (lebih dari 65%). Gambut yang terbentuk dapat mencapai kedalaman lebih dari 15 m.

Dalam kondisi alami yang tidak terganggu, lahan-lahan gambut mempunyai fungsi-fungsi ekologi yang penting; mengatur air didalam dan di permukaan tanah. Dengan sifat-sifatnya yang seperti spon, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinyu dilepas perlahan-lahan. Hal ini menyebabkan air akan tetap mengalir secara konsisten dan karena itu menghindari terjadinya banjir dan juga kekeringan.

Lahan-lahan gambut merupakan areal ‘penyimpan’ karbon yang sangat penting. Mereka hanya menutupi sekitar 3% dari luas bumi, namun mengandung 20-35% dari semua karbon yang tersimpan di permukaan bumi. Lahan-lahan gambut tropik, seperti di Asia Tenggara, mempunyai kapasitas penyimpanan karbon yang sangat tinggi (3-6 kali lebih tinggi daripada lahan-lahan gambut di daerah beriklim sedang). Mereka juga sangat kaya akan keanekaragaman jenis hayati dengan banyak jenis yang unik dan hanya dijumpai di daerah rawa-rawa gambut.

Lahan Gambut Dan Kebakaran

Kebakaran di lahan-lahan gambut harus dihindari. Mereka adalah sumber terbesar polusi asap dalam kebakaran-kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dalam kebakarankebakaran besar pada tahun 1997/98, polusi asap saja telah menimbulkan kerugian sebesar 800 juta US$ (akibat terganggunya transportasi, kerugian industri pariwisata, dan meningkatnya biaya-biaya kesehatan).

Terbakarnya kawasan-kawasan rawa-gambut telah merusak beberapa tempat ‘penyimpanan’ karbon terpenting di dunia dan melepaskan sejumlah besar karbon ke udara. Sebuah studi terbaru memperkirakan bahwa karbon yang dilepas selama kebakaran-kebakaran lahan gambut pada tahun 1997/98 sama jumlahnya dengan 13 sampai 40% dari emisi tahunan yang disebabkan oleh pembakaran bahanbakar fosil di seluruh dunia.

Pemadaman kebakaran di areal gambut sangat sulit, mahal dan dapat menyebabkan kerusakan ekologi dalam jangka-panjang. Gambut terbakar diatas dan dibawah permukaan, dan karena itu sulit untuk dipadamkan. Metodemetode pemadaman kebakaran yang mungkin diterapkan juga mahal. Untuk mengendalikan kebakaran di lahan gambut secara efektif, orang harus menggali gambut yang terbakar atau menggenanginya dengan air. Akan tetapi, dalam musim-musim kering (yaitu ketika kebakaran terjadi), air jarang tersedia dan karena itu menggenangi lahan gambut bukanlah suatu opsi yang dapat dilakukan.

Beberapa teknik pemadaman kebakaran dikawasan gambut memerlukan adanya penggalian kanal tambahan (sebagai akses ke lokasi kebakaran). Kadang-kadang, air asin juga dipompa masuk untuk menggenangi kawasan tersebut. Kedua teknik tersebut tampaknya menyebabkan degradasi lebih lanjut dari kawasan gambut. Apabila api di lahan gambut tidak dapat dipadamkan, api tersebut dapat tetap menyala dibawah permukaan dalam waktu yang lama (bahkan tahunan) dan menyebabkan kebakaran baru apabila cuaca menjadi lebih kering lagi. Api yang menyala dibawah permukaan merusak sistem perakaran pohon.

Pohon-pohon tersebut akan menjadi tidak stabil dan kemudian tumbang atau mati. Hal ini akan menghasilkan sejumlah besar pohon mati atau sisa tanaman, yang akan menjadi bahan bakar yang potensil bagi kebakaran berikutnya.

Secara ekologi, pembakaran rawa-gambut mempercepat rusaknya lingkungan yang unik dan jasa-jasa ekologi yang dihasilkannya (misalnya pengaturan air dan pencegahan banjir). Dalam hal ini, pemilahan antara sebab dan akibat harus dilakukan secara hati-hati.

Sebab-sebab dasar dari reduksi keanekaragaman jenis hayati adalah salah pengelolaan dari kawasan-kawasan rawa-gambut serta perencanaan tata-guna lahan yang memungkinkan terjadinya pengkonversian kawasankawasan tersebut. Kebakaran mengikuti dan memperbesar dampak-dampak negatif dari drainase (pengeringan air) dan mempercepat degradasi kawasan-kawasan rawa-gambut.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools