Lampageu
Dari AcehPedia
Gampong (desa) Lampageu terletak di wilayah Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Lokasinya jauh dari pusat kota. Untuk mencapai desa ini membutuhkan 1 jam berkendaraan. Sebelum tsunami menghempas sebagian besar garis pantai Barat Aceh, Desa ini termasuk daerah yang terisolasi akibat konflik berkecamuk di Aceh. desa tersebut tidak memiliki sarana pendidikan maupun kesehatan yang memadai seperti sekolah dan Puskesmas. Banyak keluarga yang mengungsi ke kota agar anaknya dapat mengecap pendidikan yang layak. Masyarakat setempat hidup dalam kesusahan. Ketika Operasi Militer diterapkan di Aceh masyarakat desa banyak yang terpaksa menghindar ke gunung pada saat jam operasi berlansung bahkan ada sebagian masyarakat ke laut dengan menggunakan perahu meski bukan waktunya melaut. Warga sering dituduh membantu perjuangan dan memberi makan GAM, padahal untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka kewalahan.
Potensi desa ini dulunya adalah perkebunan cabai, namun sayang potensi ini kemudian tidak dikembangkan lagi. Selain itu, juga pernah ada pelabuhan nelayan dan wilayah pertanian pertambakan udang. Potensi ini juga tak berkembang baik. Para nelayan dari desa ini harus turun ke kota agar bisa menjual hasil tangkapannya. Kegiatan terbatas dengan batas jam malam. Sedikit dari mereka yang tetap bertahan. Keadaan yang tak aman membuat banyak warganya merantau ke kota.
Saat tsunami tsunami yang meluluh lantakkan desa tersebut, banyak masyarakat setempat yang kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara. Masyarakat yang selamat hanya mereka yang lari ke gunung saja. Hampir tak ada bangunan yang tertinggal, kecuali tujuh rumah yang berada di atas perbukitan yang luput dari terjangan tsunami.
Kini setelah dua tahun tsunami, desa Lampageu telah banyak berubah. Desa ini dibantu oleh Organisasi nirlaba yang masuk ke wilayah tersebut sejak 2005 telah membangun kurang lebih 90 rumah di sepanjang pinggiran pantai dan di tepi bukit. Warga kini mulai membenahi kembali kehidupan mereka. Pelaut kembali melaut, pedagang kembali berdagang, ibu-ibu pun mulai berkebun. Dengan dana swadaya, warga juga mulai memperbaiki pertambakan dan pembibitan udang. BRR membangun tempat pelelangan ikan. Meskipun tempat ini belum bisa digunakan, tempat pelelangan ikan ini belum bisa difungsikan karena tidak sesuai dengan permintaan warga dan berlawanan dengan kondisi angin dan geografis wilayah ini. Kembali secara swadaya, warga membangun pelabuhan laut, sementara BRR membangun tanggul sehingga air laut tidak mengikis tanah desa serta memberikan rasa aman ketika air laut pasang. Walaupun begitu sampai saat ini, desa Lampageu pada waktu malam hari hanya diterangi lampu minyak dari rumah warga karena belum ada aliran listrik dari PLN.
Kesadaran warga desa tentang kelestarian hutan cukup baik. Warga tidak menebang pohon-pohon di gunung karena mereka sadar rumah mereka di kaki bukit sehingga jika ada penebangan hutan secara berlebihan akan terjadi longsor.
Untuk mengenang tsunami yang pernah melanda desa mereka, selain perahu, beberapa tiang menasah, dan pohon yang menyelamatkan banyak orang sekaligus sebagai batas ukuran tingginya air tsunami semuanya masih berdiri kokoh di desa itu.
Sumber
Informasi dari Kantor Kelurahan Lampageu
