Madeueng
Dari AcehPedia
Tradisi masyarakat Aceh “Madeueng” (bahasa Aceh) merupakan suatu prosesi dimana sang Ibu atau wanita yang baru selesai melahirkan harus melakukan pantangan selama 44 hari. Hal ini dilakukan demi kesejahteraan Ibu dan sang bayi. Selama rentang waktu tersebut sang Ibu harus tetap berada dikamar tidurnya dan tidak dibenarkan berjalan-jalan apalagi keluar rumah. Sedangkan bayi terus dipingit berdampingan dengan ibunya.
Selama rentang waktu tersebut sang Ibu terus diberikan terapi berupa api diang (Aceh: madeueng) yang ditempatkan di bawah atau di sisi pembaringannya. Sehingga tubuh si ibu selalu mendapat udara panas untuk memulihkan kembali bagian-bagian tubuhnya sehingga segar bugar. Bahkan ada ibu-ibu yang melakukan prosesi ini di dapur yang lazim disebut ureung di dapu, yaitu orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur dengan bara api di bawah pembaringan.
Api diang ini terdiri atas api dan asap yang dibuat sedemikian rupa dengan campuran kayu, daun, dan rempah-rempah tertentu yang mengandung aroma harum dan berkhasiat untuk kesehatan. Rempah-rempah yang digunakan termasuk dalam daftar jamu empat puluh empat atau aweueh peuet ploh peuet.
prosesi Madeueng
Madeung adalah teknik pengobatan yang lazimnya dilakukan wanita Aceh yang baru selesai melahirkan. Hanya saja kayu bakar dicampur dengan daun dan rempah-rempah tertentu yang mengandung aroma harum serta berkhasiat untuk kesehatan, rempah-rempah yang digunakan ini termasuk dalam daftar jamu empat puluh empat,atau “aweueh peuet ploh peuet” — biasa juga disebut dengan rempah ratus. Ureung madeung ini, biasanya menyebutnya “ureung didapu”(orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur.
Ketika seorang wanita habis melahirkan melakukan Madeueng. Caranya: menyediakan tunggul-tunggul kayu untuk dibakar. selama empat puluh empat hari. Ini disebut “Tungoe”, setelah itu dipersiapkan juga balai-balai atau dipan yang dibuat dari batang bambu yang cukup tua atau batang pinang atau batang kelapa atau batang nibung yang telah dibelah memanjang selebar kurang lebih tiga jari, dewasa ini karena bahan-bahan tersebut sudah agak sulit ditemukan, maka dipersiapkanlah balai atau dipan untuk orang yang masih melakukan ritual madeung dengan menggunakan papan atau kayu yang dibelah memanjang dengan lebar sekitar lima sentimeter, disusun memanjang dengan jarak antara satu bilah papan dengan papan yang lain berjarak 2 cm (agar asap dan panas bisa masuk melalui celah-celah tersebut) dan dipan yang digunakan biasanya berukuran panjang disesuaikan dengan tinggi tubuh seseorang, agar orang tersebut dapat tidur dengan nyaman dan leluasa, lebarnya minimal 75 cm atau tergantung selera dan kebutuhan serta tingginya lebih kurang 1 meter, dibawah dipan itu ada yang menggunakan pembakaran model tungku, bahannya ada yang terbuat dari semen dan pasir ada juga gerabah dari tanah liat seperti anglo yang diisi dengan “teungo” atau kayu,dengan melalui proses pembakaran dari api berubah menjadi bara merah, barulah diatasnya diletakkan kayu-kayu kecil yang mengandung obat, seperti: kayu dadap, kayu rambutan, kayu cendana dll. Selain itu juga disediakan juga batu kali sebesar tempurung kelapa sebanyak tiga buah yang berbentuk agak gepeng (pipih) dan bisa juga berbentuk bulat, sehinggga mudah untuk disandarkan pada perut perempuan yang tidurnya miring (menyisi).
Ada kalanya dimulai pada hari ketiga setelah bersalin, biasanya sekitar jam sepuluh pagi setelah sang ibu selesai mandi. Prosesnya selama 7 hari berturut-turut,tetapi ada juga yang dilakukan oleh orang-orang tertentu selama empat puluh empat hari berturut-turut (selama masa nifas) yang biasanya selesai ritual madeung ini sang ibu akan melaksanakan “manoe peut ploh peut” atau mandi suci.
Selanjutnya dilakukan proses bakar batu Toet Batee (pemanasan batu),batu yang telah dipanaskan lalu diangkat dan dibungkus dedaunan tertentu,seperti “Oen Nawah” (daun jarak) lalu dibalut kain beberapa lapis hingga panasnya masih dapat dirasakan tetapi tidak menimbulkan bahaya.Gulungan batu tersebut lalu disandarkan pada perut perempuan yang sedang berbaring di balai-balai tersebut, jika batu pertama sudah dingin,maka akan digantikan oleh batu kedua yang dibuat serupa dengan batu pertama, dan begitu juga dengan batu yang ketiga yang dipakai setelah batu kedua dingin terus-menerus secara bergantian, batu dipanaskan di dapur di bawah balai tersebut yang terus menerus berapi, api dari tungku kayu itu tak boleh terlalu besar, maka dari itu apinya perlu dijaga..
Yang bertugas sebagai penjaga dilakukan secara bergantian yaitu: orang tua,mertua,dan tetangga atau kerabat.Ini juga adalah sebagai ajang kebersamaan dan mempererat silaturahmi.Sewaktu menjaga,mereka disuguhi makanan berat dan makanan ringan.Di sebuah daerah Aceh yang bernama Takengon, yang terletak di Dataran Tinggi Gayo termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah, yang bertugas menjaga orang madeung itu adalah suaminya dan orang laki-laki yang masih kerabatnya sendiri,kebiasaan tersebut bernama “melee-melee.” Mereka begadang semalam suntuk tidak tidur sambil minum-minum kopi dan berdiang di sekitar dipan atau balai tersebut..
Selama empat puluh empat hari menjalani prosesi madeung, makanan yang boleh dimakan hanyalah nasi putih dengan lauk pauk yang diolah secara khusus sehingga bebas lemak, seperti ikan yang direbus bisa juga dipanggang, atau dikukus dan digoreng setengah matang.Yang boleh mereka minum hanyalah air putih saja, makanan dan minuman yang lainnya tidak diperbolehkan sama sekali untuk dikonsumsi, karena menurut mitos orangtua zaman dahulu, meraka berpesan melalui nenek-nenek jika anak atau cucunya kelak bersalin, jangan sekali-kali memakan telur ayam apalagi telur bebek, katanya, bisa berbahaya dan bila dimakan telur akan keluar telur (peranakan), demikian juga dilarang memakan pisang,karena makanan itu dianggap tajam.Tetapi hal tersebut sangat bertolak belakang jika ditinjau dari segi medis.
Setelah empat puluh empat hari lamanya, barulah diperbolehkan untuk acara turun mandi yang diistilahkan dengan “manoe peut ploh peut” artinya mandi suci atau mandi hadas besar yang dilaksanakan setelah hari ke empat puluh empat, yang biasanya dipandu oleh orang tua atau dukun/bidan gampong atau biasa disebut Ma Blien.
Usai acara mandi Wiladah dan mandi nifas setelah suci dari melahirkan atau mandi adat setelah 44 hari, barulah sang ibu diperbolehkan untuk menjejakkan kakinya diatas tanah, karena dianggap telah suci. Pengalaman yang diungkapkan oleh Narasumber tentang Madeung.
Proses Madeung ( salè, toet bate atau bakar batu, dan ramuan tradisional ) ini bisa disebut juga alat KB Tradisional, karena dengan melakukan serangkaian proses Madeung bisa mengatur jarak kelahiran karena pada jaman dahulu belum ada program keluarga berencana (KB) yang modern seperti sekarang ini.
Madeung dan Salè mempunyai beberapa fungsi, yaitu: dapat mengeringkan peranakan, tubuh menjadi singset, dapat mengecilkan perut, dapat mengatur jarak kelahiran, dan mendatangkan aroma harum pada tubuh.
Selama menjalani prosesi ini si ibu hanya diberikan sedikit air tebu dan nenas secara teratur ynag berfungsi untuk membersihkan kotoran-kotoran yang mungkin masih melekat di dalam perut dan kandungannya, serta diberi nasi putih tanpa kuah di dalam mangkok (Aceh: cawan) dan tidak diberi lauk pauk. Obat bersalin diberikan secara tetap sampai sehat seperti sediakala. Pada hari yang ke 45 barulah sang Ibu terlepas dari prosesi madeueng ini. Mdeueng lebih hebat dari mandi uap, dalam tradisi Aceh disebut Ukoep. Sebelum prosesi Ukoep, terlebih dahulu harus disiapkan bahan-bahan berupa ramuan daun-daunan dan rempah-rempah, misalnya: “Oen Kuyun” (daun jeruk nipis) dan “Oen Mee” ( daunasam jawa ), bisa juga dengan “Oen Limeeng Engkoet” ( daun belimbing wuluh ), “Oen Ranuep” ( daun sirih ), “Bak Rheu”( batang serai ), “Kuleet Bak Geurundoeng” ( kulit batang kuda-kuda ), “Kuleet Maneh” ( kayu manis ), “Bungoeng Lawang” ( bunga cengkeh ), “Boh Pala” ( biji pala ), “Boh Langkueuh”( umbi lengkuas ), “Oen Sekee Puloet” ( daun pandan ).
Jika Ukop ini dilakukan secara berkala dan teratur, Insya Allah berat tubuh seseorang akan selalu ideal, bukankah ini yang menjadi dambaan bagi semua orang khususnya kaum perempuan. Orang yang berat badannya ideal biasanya sehat. Antara lain dapat mengobati penyakit inflensa dan demam ( meriang)
Selain berfungsi untuk menjaga kebugaran sang Ibu, ternyata prosesi ini juga bermanfaat menjaga sang Ibu tetap awet muda, sehat dan langsing. Hali ini diperkuat oleh hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh tiga orang pelajar asal SMPN-1 Banda Aceh, yaitu Afif Widhi Ananto, Ghina Luqyana Rusman, dan Nadila Anindita. Bagi mereka prosesi madeueng ini merupakan suatu kearifan lokal yang harus dipertahankan.
