Marzuki Hasan

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari
Marzuki Hasan
Marzuki Hasan

Biografi

Pria ini merupakan penyair kelahiran Blang Pidie, 3 Mei 1943, Marzuki dibesarkan di lingkungan yang menyukai syairdan pantun. Sejak umur tujuh tahun sudah bergumul dengan syair dan pantun Aceh.

Saat dia kecil, syair dan pantun sering diperdengarkan di meunasah-meunasah. Selain itu, Marzuki kecil menyaksikan perkembangan cikal bakal tari duduk dari kampungnya yang bernama tari Rateb Meuseukat.

Rateb Meuseukat ini merupakan nama yang benar untuk tari Saman. Nama tari Saman sudah salah kaprah karena sebenarnya hanya untuk menyebut tarian yang dibawakan laki-laki. Jika dibawakan perempuan bernama Rateb Meuseukat.

Rateb Meuseukat berkembang di kampung Pak Uki. Tradisi tari duduk Rateb Meuseukat yang dibawakan perempuan berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro dan sekitarnya waktu itu.

Sedangkan tari duduk oleh laki-laki yang disebut Saman banyak dilakukan oleh orang Gayo. Dalam perkembangannya, ketika tari duduk diperkenalkan di luar Aceh, orang tetap menyebut tari Saman walau dibawakan perempuan.

Marzuki remaja akhirnya pandai menari, bersyair, dan berpantun. Tarian Aceh, syair, dan pantun juga telah menjadi pengimbang setiap konflik yang sering terjadi di tempat itu. Budaya yang lembut
menjadi penyeimbang dari konflik yang keras. Ditempa situasi konflik, darah seniman tetap mengalir pada dirinya

Bahkan, ketika menamatkan Sekolah Guru Olahraga di Yogyakarta tahun 1970, Marzuki yang seharusnya mengajar pendidikan olahraga tetap memilih berkesenian.

Walaupun sempat menjadi pelatih fisik pada sebuah klub bulu tangkis, Marzuki merasa tidak cocok dan terus berkecimpung di bidang seni. Maka, tahun 1975 dia mengajar budaya Aceh dan seni tari di kampus yang dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga kini.

Di sela-sela mengajar, dia tetap aktif berkesenian. Tahun 1978 di bawah kelompok Cakra Donya, bersama almarhum Nurdin Daud, dia
menciptakan tari Rampa yang di dalamnya memuat berbagai ragam tari Aceh. Rampa inilah yang dikenal sekarang sebagai tari Rampai Aceh dan berdurasi 75 menit.

Sejak 1977 hingga kini, Marzuki mengaku masih menjadi penari di istana. Dia membawakan tari Aceh yang dia buat sendiri dan selalu
berubah sesuai tema. Menggabungkan gerakan Saman, Ratoh, Seudati, Laweut, dan masih banyak lagi tari Aceh. Setidaknya ada 40 gerakan.

Ia juga pernah menjadi peneliti budaya dan mendampingi peneliti Jerman, Prof Dr Margaret dari Munich University, yang meneliti Rateb Meuseukat. Selain banyak pula koreografer yang berguru kepada Marzuki, ia juga pernah berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, Guruh Soekarnoputra, dan Gilang Ramadhan.

Keunikan lain dari Marzuki, dia tak mau hanya berkutat menjadi personel sebuah kelompok. Hanya ingin memberi warna kepada semuanya dan bukan milik kelompok tertentu.

Di antara banyak tari Aceh, yang paling mendapat respons adalah Rateb Meuseukat yang dikenal sebagai Saman. Saman telah melewati batas-batas agama, budaya, bahkan benua.

Marzuki adalah salah seorang yang beruntung menyaksikan seni daerah itu punya pamor melebihi yang pernah dia pikirkan. Sudah puluhan kali Marzuki diundang ke berbagai belahan dunia,
mulai dari Amerika, Afrika, Australia, Eropa, apalagi Asia.

Biasanya Marzuki dibawa untuk misi dagang, misi pariwisata, atau atas undangan negara sahabat. Satu pengalaman yang membuat Marzuki bangga, ketika diminta mengajar Rateb Meuseukat di Namibia selama 45 hari untuk Konferensi Asia Afrika (KAA).

Hingga kini, berbagai undangan menari, menjadi juri, atau menjadi koreografer terus mengalir. Satu hal yang diharapkan Marzuki adalah generasi penerus. Terakhir dia berkolaborasi dengan mahasiswa menampilkan tari kontemporer Meusaboh Hatee (Menyatukan Hati) untuk peringatan bencana tsunami Aceh.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools