Pakaian
Dari AcehPedia
Isi artikel anda di sini Batik Aceh Corak dan variasi batik Aceh memiliki perbedaan dengan daerah lain. Kekhasan batik Aceh terletak pada penggunaan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani, seperti merah, hijau, kuning dan sebagainya sehingga terkesan glamour dan indah. Selain itu, motif batik Aceh mengandung makna falsafah hidup masyarakat dan kepribadian orang Aceh. Misalnya motif pintu mengandung makna kepribadian orang Aceh yang memiliki adat istiadat yang tidak mudah terbuka dengan orang asing, tetapi akan menjadi akrab bila sudah saling mengenal satu sama lain. Pada umumnya ukuran pintu orang Aceh relative rendah, namun didalam ruangan utama lapang. Motif lainnya adalah motif tolak angin yang mengandung arti bahwa orang Aceh cenderung mudah menerima perbedaan. Pada rumah-rumah adat orang Aceh, terdapat banyak ventilasi udara. Motif lain yang sering dijumpai adalah motif bunga Jeumpa dan bunga Kantil yang berbentuk indah serta motif Rencong yang merupakan senjata khas rakyat Aceh. Pengaruh Islam juga mempengaruhi motif-motif batik Aceh, seperti ragam hias yang berbentuk garis, melingkar dan sulur. Dibandingkan dengan orang Jawa, identitas batik sangat lekat pada dua hal yakni motif batik dan tradisi membatik dengan menggunakan canting dan malam (sejenis lilin yang menggunakan zat pewarna). Sedang di Aceh, meski ada produk batik Aceh dan motif khas Aceh tetapi tidak dikenal tradisi membatik seperti halnya yang dilakukan orang Jawa. Batik Aceh diproduksi bukan melalui tangan-tangan trampil membatik orang Aceh tetapi dari mesin-mesin pencetak batik. Sejarah Batik Aceh Dalam sejarah, batik pun bukan berasal dari Jawa meski kata “batik” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menulis”. Menurut perkiraan perajin batik di Jawa, batik berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Karena itu sebutan “batik” dikenal dibanyak negara seperti batick, batic, bathik, batik, batique, batek serta batix. Kain batik pun bisa ditemukan di banyak negara di Asia seperti di Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Srilanka dan Iran serta beberapa negara di Afrika. Motif batikpun banyak dipengaruhi dari interaksi antar budaya, misalnya motif Jlampang diilhami dari India dan Arab, metif encim dan klengenan dipengaruhi oleh Cina serta motif hokokai dipengaruhi oleh Jepang. Meski demikian, masyarakat dunia lebih mengenal batik yang berasal dari Indonesia dengan Pekalongan sebagai ikon Kota Batik. Penyebab terkenalnya batik dari Indonesia karena budaya membatik sudah dikenal sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia pada abad XVII yang ditulis dan dilukis diatas daun lontar. Dalam beberapa catatan sejarah, seni menggambar diatas kain untuk pakaian telah menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja pada zaman dulu, utamanya di Kerajaan Mataram. Pada awalnya, batik hanya dikerjakan sebatas untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya didalam kraton. Karena para pengikut raja juga banyak yang tinggal diluar kraton, maka seni membatik dibawa serta keluar keraton dan dikerjakan ditempat para pengikut raja-raja tersebut. Seni membatik kemudian banyak ditiru oleh rakyat terdekat dan kemudian meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Akhirnya, batik yang tadinya menjadi pakaian raja dan keluarganya menjadi pakaian rakyat pada sekitar akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ketika itu masih batik tulis sampai awal abad XX,s edang batik cap baru dikenal setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Ketika itu motif batik masih didominasi bentuk binatang dan tanaman. Pada perkembangan berikutnya motif tanaman dan binatang beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan banyak lagi lainnya. Akhirnya muncul seni batik tulis yang dikenal sekarang ini sebagai perbaduan antara motif atau corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian. Waktu itu bahan kain putih yang dipergunakan adalah hasil tenunan sendiri, sedang zat pewarna yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan disekitar lingkungannya, seperti pohon mengkudu, soga, nila ditambah bahan soda yang dibuat dari soda abu, sedang garamnya berasal dari air asin yang telah dikeringkan diatas tanah. Corak dan jenis batik tradisional sangat banyak di Indonesia. Namun variasi dan corak disesuaikan dengan filosofi dan masing-masing daerah yang sangat beragam. Khasanah ragam budaya bangsa Indonesia mendorong munculnya berbagai corak dan motif batik tradisional dengan ciri khasnya sendiri, seperti corak batik Aceh yang khas. Dengan demikian, apa yang disebut sebagai Batik Aceh, lebih cocoknya disebut Batik Motif Aceh. Referensi: Muslimin B.Putra, Perbincangan Tentang Batik Aceh, www.acehinstitute.org
