Pembagian Waktu Dalam Bahasa Aceh
Dari AcehPedia
Berikut ini adalah beberapa penunjuk waktu dalam bahasa Aceh yang lazim digunakan oleh masyarakat Aceh. Nama-nama waktu tersebut sering diambil dari pembagian waktu menurut agama yakni beberapa waktu (Aceh: wa'tee atau watee) atau jangka waktu untuk sembahyang wajib, sedangkan lain diambil sebagai dasar kegiatan sehari-hari, waktu makan dan lain-lain sebagainya.
- Ban beukah mata uroe (dengan terbitnya matahari), kira-kira pukul 6 pagi.
- Sigalah uroe (matahari tinggi segalah, yakni segalah dipakai untuk mendorong perahu), kira-kira pukul 7.00 - 7.30.
- Wate atau wa'tee bu ("waktu nasi", yakni waktu makan), kira-kira pukul 9.
- Ploih meuneu'ue (melepaskan bajak yakni waktu pembajak dan kerbaunya beristirahat sesudah makan pagi), kita-kita pukul 10.
- Peuna cot (matahari mendekat puncak) kira-kira pukul 11.
- Cot (puncak) kira-kira pukul 12 siang.
- Reubah cot (jatuh dari puncak) atau leuho (lafal Aceh untuk waktu bahasa Arab zuhr, tengah hari) kira-kira pukul 12.30.
- Peuteungahan leuho (pertengahan waktu untuk sembahyang wajib tengah hari) kira-kira pukul 13.30 - 14.00.
- Akhe leuho (bagian akhir waktu yang disebut di atas) kira-kira pukul 15.00.
- Asa (awal waktu untuk sahalat sore atau ashar) kira-kira pukul 15.30.
- Peuteungehan asa (pertengahan waktu di atas) kira-kira pukul 16.30 - 17.00.
- Akhe asa (bagian akhir waktu di atas) kira-kira pukul 17.30.
- Mugreb (matahari terbenam) kira-kira pukul 18.00.
- Isya (malam, khusus awal malam dalam bahasa Arab 'isya) kira-kira pukul 19.30.
- Teungoh malam (tengah malam) kira setelah Isya.
- Suloih yang akhe (sepertiga terakhir dari malam) kira-kira pukul 01.30 - 04.30.
- Kukue' mano' siseun (ayam jantan berkokok sekali) kira-kira pukul 03.00.
- Kukue' mano' rame (ayam jantan berkokok terus) kira-kira pukul 4.00 - 4.30.
- Mureh (garis fajar di ufuk) atau suboh (Arab: subh = pagi) atau paja (Arab: fajr = dini hari) mejelang pukul 05.00.
Sumber
De Atjehers Jilid I, Dr. C. Snouck Hurgronje, E.J. Brill, Leiden, 1893.
