Pengendalian Biologi
Dari AcehPedia
Pengendalian biologi yang terjadi secara alami di alam yang dapat menekan perkembangan serangan penyakit tanaman jarang dapat dijelaskan bagaimana mekanisme pengendaliaanya. Kemajuan penelitian dibidang ini berjalan lambat, karena harus menunggu tersediannya pengetahuan dasar mengenai perilaku dan sifat populasi campuran di dalam tanah dan dipermukaan tanaman. Walaupun demikian, ada beberapa sistim pengendalian biologi yang telah dikembangkan dengan memanfaatkan bioteknologi.
Sifat antagonis jamur Trichoderma sp telah diteliti sejak lama. Inokulasi Trichoderma lignorum ke dalam tanah dapat menekan serangan penyakit layu yang menyerang di pesemaian, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh toksin yang dihasilkan jamur ini yang dapat diisolasi dari biakan yang ditumbuhan di dalam petri. Spesies lain dari jamur ini telah diketahui bersifat antagonistik atau parasitik terhadap jamur patogen tular tanah yang banyak menimbulkan kerugian pada tanaman pertanian Tahun 1972, Well dan kawan-kawan melaporkan bahwa dengan pemberian inokulum Trichoderma harzianum dengan perbandingan inokulum dengan tanah 1 : 10 v/v dapat mengendalikan penyakit busuk batang dan busuk akar yang disebabkan oleh jamur Sclerotium rolfsii. Pada tahun 1975, Backman, Rodrigues-Kabana mengembangkan penelitian tentang pemanfaatan inokulum jamur antagonis ini yang dicampurkan dengan tanah diatomae yang dilumuri larutan tetes (molase) 10 % untuk membantu pertumbuhan Trichoderma harzianum . Inokulum jamur ini ternyata dapat mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii di lapangan dengan butiran tanah diatomae sebanyak 140 kg/ha sebagai inokulum, yang hasilnya sebanding dengan perlakuan yang menggunakan pestisida kimia (Sinner cit Hinggis,1985)
Jamur Trichoderma harzianum dapat mengendalikan penyakit layu semai pada kacang buncis dan kol pada kondisi rumah kaca, tetapi hasilnya belum mantap untuk skala lapangan. Jamur Trichoderma hamatum dilaporkan juga dapat menghambat serangan jamur Rhizoctonia solani dan Phytium sp yang menyerang persemaian tanaman kapri dan lobak.
Jamur Fomes annosus dari kelompok Basidiomycetes yang menyebabkan penyakit busuk pada inti kayu pada pohon jarum (Picea abies) dapat ditekan serangannya dengan menginokulasikan jamur antagonis Peniophora gigentea. Jamur antogonis ini dapat mengkolonisasi tunggul sehingga mencegah terjadinya pembusukan pada kayu inti.
Kelompok bakteri dari Genus Agrobacterium dan Pseudomonas banyak dimanfaatkan sebagai agen pengendalian biologi. Tidak semua spesies dari genus Agrobacterium merupakan bakteri patogen. Banyak strain yang diisolasi dari dalam tanah diketahui merupakan strain antagonis yang dapat menghambat pertumbuhan strain patogen. Kedua strain ini dapat diketahui apakah bersifat patogen atau antagonis dengan melakukan uji patogenisitas pada tanaman inang. Di dalam tanah di sekeliling perakaran tanaman yang sakit, perbandingan kedua strain ini sangat tinggi tetapi pada perakaran tanaman yang sehat perbandinganya rendah sekali (Skinner cit. Hinggins, 1985).
Bakteri Agrobacterium radiobacter strain K- 84 dapat menghasilkan senyawa antibiotik Agrosin 84 yang mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen Agrobacterium tumefacient penyebab penyakit Crown Gall pada tanaman persik dan mawar. Strain K–84 ini mengandung plasmid kecil yang menyandikan produksi agrosin dan plasmid besar yang menyandikan penggunaan nonpalin yang merupakan asam amino tipe opin yang hanya terdapat dalam jaringan Crown Gall. Dari percobaan laboratorium didapatkan bahwa bakteri patogen yang resisten terhadap agrosin ini dapat muncul karena adanya konjugasi antara strain–84 dan strain patogen. Selama konjugasi, kedua plasmid dari strain–84 berpindah secara bebas, sedangkan plasmid Ti pada patogen, pada sel penerima dapat muncul atau tidak. Dari enam kemungkinan transkonjugan, tiga mengandung plasmid Ti, dua mengandung plasmid kecil yang bersandikan produksi Agrosin–84. Dengan cara manipulasi genetik dapat dikembangkan strain 84 yang tidak dapat melakukan konjugasi dengan patogen atau mengembangkan strain patogenik penghasil agrosin.
Tabel : Beberapa contoh agen hayati yang dapat dimanfaatkan
untuk mengendalikan penyakit tanaman (Wipps, 1977)
| Agen hayati | Patogen sasaran | Penyakit/ Inang |
| Kelompok bakteri Agrobacterium radiobacter Bacillus subtilis Pseudomonas cepacia P. fluorescens Ralstonia solanacearum (strain avirulen) Kelompok jamur Trichoderma viridae Trichoderma harzianum Peniophora gigentea F. oxysporum (non patogen) Gliocladium virens Phytium oligandrum | Agrobacterium tumefaciens Rizoctonia solani, Phytium .sp, Fusarium spp Fusarium spp, R.. solani F. oxysporum Ralstonia solanacearum strain virulen Fusarium, spp; Phytium spp, R. solani Fusarium, spp; Phytium spp, R. solani Heterobasidon annosum F. oxysporum f.sp. batatas P. ultimum, R. solani P. ultimum | Crown gall/Rose, Apel dan Pear Rebah semai/Padi, Kapas dan Legum Rebah semai/Kapas Jagung dan sayuran Layu dan rebah semai/sayuran Layu/ Tomat, kentang Busuk akar/rebah semai, layu/sayuran Busuk akar/ layu/sayuran Busuk batang dan akar cemara Layu fusarium/ubi jalar Rebah semai/sayuran Rebah semai/bet gula |
