Perubahan Iklim dan Kerusakan Hutan
Dari AcehPedia
Tabuh bencana akibat perubahan iklim dunia sudah dimulai saat para ilmuwan memperingatkan kita semua bahwa telah terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi secara global, pada tahun 1990. Pemanasan global ini terjadi karena adanya penumpukan gas rumah kaca yang makin tak terkendali akibat pembuangan limbah gas karbon ke udara kita yang berlebihan. Gas rumah kaca yang menyelimuti bumi inilah yang menyebabkan sebagian panas matahari yang seharusnya kembali dipantulkan ke angkasa, justru terhalang dan kembali lagi ke permukaan bumi. Seberapa bahayakah akibat dari pemanasan global ini?
Akibat pemanasan global, diperkirakan terjadi peningkatan suhu bumi setiap dekade berkisar sebesar 0,2 derajat celcius. Kenaikan suhu ini, dengan berbagai skenario, diperkirakan pula akan menyebabkan kenaikan permukaan laut pada abad 21, berkisar antara 0,18-0.59 meter. Bisa kita bayangkan, air laut akan makin masuk ke daratan. Daratan makin menyempit, abrasi pantai, atau paling parah adalah beberapa pulau kecil yang landai akan menjadi tenggelam. Tentu, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, harus siap-siap dengan kenyataan global ini. Sedangkan di tengah daratan, perubahan iklim ini akan semakin terasa dengan curah hujan yang akan semakin meningkat secara mendadak dan berlebihan, yang akan menimbulkan bencana lain seperti banjir dan tanah longsor.
Peningkatan gas rumah kaca terjadi akibat kegiatan manusia yang signifikan terhadap pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan. Hutan-hutan sebagai paru-paru dunia semakin menyempit. Hal ini sebagaimana yang terjadi di Pulau Sumba? Pada tahun 1927, diperkirakan luas tutupan hutan di Pulau Sumba masih sekitar 50% dari luas daratan. Namun fakta hasil analisa foto udara pada tahun 1997 menunjukkan, tutupan hutan hanya tersisa 10%. Bahkan, hasil terakhir pada tahun 2000 lebih parah, menjadi sekitar 6,5% saja. Padahal idealnya, dibutuhkan luas hutan sebanyak 30% dari luas daratan suatu pulau.
Hilangnya hutan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi perubahan iklim dunia. Proses penghilangan hutan ini akan menjadi lebih parah jika menuju ke arah proses penggurunan suatu daerah. Kerusakan dan degradasi kualitas hutan primer akan menuju kepada hutan-hutan yang miskin dan kosong, serta membentuk ekosistem yang rapuh. Berikutnya, ekosistem yang rapuh akan sangat mudah beralih fungsi menjadi padang semak dan alang-alang.
Membutuhkan waktu yang sangat lama jika hanya mengharapkan proses alamiah untuk mengubah alang-alang menjadi hutan primer ideal. Hal ini bahkan tidak akan tercapai jika padang alang-alang yang sudah sangat miskin hara ini harus terus terbakar dan terbakar lagi. Tanah menjadi keras, tandus, dan suatu saat rumput sebagai tumbuhan perintis pun enggan untuk tumbuh di sana. Dengan kondisi Pulau Sumba yang ditambah perubahan iklim global, jangan heran jika akan bermunculan padang-padang gurun di Sumba nantinya.
Perubahan iklim secara global dan berkurangnya luas hutan di Pulau Sumba secara lokal, sesungguhnya bukanlah perkara sepele. Bagi masyarakat Sumba yang umumnya agraris, kemarau yang semakin panjang dan curah hujan yang berlebihan dalam waktu singkat merupakan potensi gagal tanam dan gagal panen sekaligus. Selain banjir dan longsor, jumlah air tawar tersedia dari alam pun akan menyusut. Peningkatan suhu akan menyebabkan juga berbagai serangga sebagai hama pertanian akan semakin berkembang. Sedangkan serangga penyebab penyakit manusia juga tumbuh subur.
Khusus dalam kaitannya dengan burung dan manusia, peningkatan suhu secara global akan menyebabkan suhu di pegunungan menjadi lebih hangat. Burung-burung di dataran rendah yang bersuhu makin panas, akan dapat terus mendesak burung-burung di pegunungan. Jika luasan hutan pegunungan terus menyempit, maka harus ada persaingan yang berakibat memusnahkan beberapa jenis burung yang tidak mampu bersaing dan beradaptasi secara cepat.
Selain itu, banyak burung di pulau Sumba merupakan jenis-jenis pendatang (migran), baik dari utara khatulistiwa (sekitar November-Maret saat utara musim dingin), maupun dari selatan khatulistiwa (sekitar Mei-Agustus saat selatan musim dingin). Mereka datang ke daerah tropis untuk mencari makan dan sebagian berbiak. Jika suhu di daerah asal mereka makin menghangat, secara naluriah mereka akan mempersingkat masa migrasi. Padahal banyak di antara mereka merupakan jenis-jenis pemakan serangga hama pertanian, seperti jenis-jenis burung layang-layang (Hirundinidae), kirik-kirik (Meropidae), raja udang (Halcyonidae), ataupun alap-alap dan elang (Accipitridae). Jika kehadiran mereka berkurang di dataran rendah, sedangkan burung-burung pemakan serangga lokal makin memilih naik ke pegunungan, maka ketidakseimbangan ekosistem akan terjadi. Perkembangan serangga di dataran rendah menjadi sangat tidak terkendali. Sebagai akibatnya, akan lebih banyak tanaman pertanian manusia musnah oleh serangan hama serangga.
