Proses Hidrologi

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Pembangunan dan lingkungan mempunyai hubungan timbal balik. Di dalam pembangunan, manusia merupakan konsumen yang berperan aktif dalam proses pemanfaatan sumberdaya alam. Manusia sangat tergantung kepada sumberdaya alam dan kelestarian sumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Upaya manusia untuk meningkatkan perekonomian harus disertai upaya untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Manusia sebagai komponen aktif dan pengelola lingkungan akan menentukan pola dan corak penggunaan lahan pada suatu wilayah DAS. Pertambahan penduduk identik dengan peningkatan kebutuhan.

Perubahan jumlah manusia dan bentuk kegiatannya akan mengakibatkan perubahan dalam penggunaan lahan dan selanjutnya akan menyebabkan perubahan dalam kualitas lingkungan. Perubahan lingkungan ini sering merupakan akibat pemanfaatan sumberdaya alam sudah melampaui daya dukung lingkungan.

Studi tentang air dirasakan semakin penting, terutama di negara-negara berkembang yang masih terdapat masalah terhadap budaya dan teknologi dalam pengelolaan air yang sesuai dengan lingkungannya. Cabang ilmu yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi. Secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu hidro = air, dan logos = ilmu. Dengan demikian secara umum hidrologi dapat berarti ilmu yang mempelajari tentang air.

Unit Hidograf
Unit Hidograf

Konsep yang umum itu, kini telah berkembang sehingga cakupan obyek hidrologi menjadi lebih jelas. Menurut Marta dan Adidarma (1983), bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun dibawah permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubunganya dengan kehidupan.

Berdasarkan konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi:

1. asal mula dan proses terjadinya air

2. pergerakan dan penyebaran air

3. sifat-sifat air

4. keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan

Sungai pengendapan material Gunung Semeru Lumajang jawa Timur
Sungai pengendapan material Gunung Semeru Lumajang jawa Timur

Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya. Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok paling penting dalam atmofer bumi. Air terdapat sampai pada ketinggian 12.000 hingga 14.000 meter, dalam jumlah yang kisarannya mulai dari nol di atas beberapa gunung serta gurun sampai empat persen di atas samudera dan laut. Bila seluruh uap air berkondensasi menjadi cairan, maka seluruh permukaan bumi akan tertutup dengan curah hujan kira-kira sebanyak 2,5 cm.

DEFORESTASI umumnya dianggap sebagai penyebab menurunnya kualitas air sungai. Sekitar 20% dari total luasan lahan hutan di Indonesia diklasifikasikan sebagai "HUTAN LINDUNG" yang berfungsi 'lindung' dalam mempertahankan kualitas air sungai. Penurunan fungsi lindung hutan terhadap kualitas air ini sering muncul sebagai masalah "hangat" di tingkat masyarakat. Sehingga banyak peneliti melakukan kajian untuk mengukur dampak sistem penggunaan lahan terhadap 'kualitas biologi' air sungai.

Bagaimana cara mengetahui kondisi kualitas air?

Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Sayangnya, cara-cara pengujian tersebut memerlukan biaya yang cukup mahal, disamping prosedur pengujian yang tidak mudah.

Ada cara praktis yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk menilai kualitas air, yaitu dengan melihat hewan air (makroinvertebrata) yang spesifik hidup pada air berkualitas baik.

Apakah makroinvertebrata itu?

Makroinvertebrata adalah kelompok hewan yang tidak

memiliki tulang belakang dan mudah dilihat dengan kasat mata (ukuran tubuh lebih dari 0.5 cm). Beberapa kelompok hewan yang termasuk didalamnya adalah serangga air, cacing air, udang, siput dan lain sebagainya. Makroinvertebrata dapat hidup dan berkembang dengan baik pada kondisi sungai yang alami, berbatu pada bagian dasarnya, dan air mengalir dengan cepat. Beberapa hewan makroinvertebrata sangat peka terhadap perubahan kondisi air sungai.

Beberapa kegiatan manusia seperti pemakaian pestisida dan pupuk pada lahan pertanian, sampah rumah tangga di daerah pemukiman, meningkatnya jumlah lumpur (serta polusii lainnya) pada air sungai menyebabkan menurunnya kualitas air. Akibatnya, beberapa jenis

makroinvertebrata tidak ditemukan lagi. Jadi, hewan-hewan yang peka terhadap penurunan kualitas air sungai tersebut dapat dipakai sebagai penanda (indikator) kualitas air sungai yang baik.


Beberapa Jenis Makroinvertebrata
Beberapa Jenis Makroinvertebrata

MAKROINVERTEBRATA adalah kelompok hewan tidak bertulang belakang yang bisa dilihat dengan mata biasa (lebar tubuh >0.5 cm) seperti serangga, cacing, kepiting. Toleransi (daya tahan) kelompok makroinvertebrata terhadap pencemaran air sungai cukup bervariasi. Hewan yang tahan dan hidup pada kondisi air tercemar bisa dipakai sebagai "INDIKATOR POLUSI" (penunjuk pencemaran) air sungai.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools