Puteri Mayang Seludang

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Penduduk daerah sepanjang Selat Malaka sejak dulu telah berinteraksi dengan para pedagang baik dari India, Cina, maupun Arab dan Persia karena berada pada jalur perdagangan internasional. Negeri Jeumpa dan Perlak termasuk kawasan yang berlokasi di sepanjang Selat Malaka bahkan menjadi pintu gerbang pertama yang disinggahi para rombongan pedagang. Dari India, Arab, dan Persia yang akan melintasi Selat Malaka sebelum melanjutkan ke Cina dan kawasan timur lainnya.

Di Aceh ditemukan banyak situs bersejarah yang berhubungan dengan kerajaan Islam di masa lalu. Di antara sekian banyak kerajaan Islam tersebut, ada tiga yang sangat berpengaruh yakni Kerajaan Islam Perlak, Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Raja-raja Islam yang pernah memerintah di kerajaan-kerajaan Aceh bisa dirunut pada tiga figur penting yakni Mayang Seludang, Maharaj Syahriar Salman dan Sayid Ali Muktabar yang merupakan cucu dari Nabi Muhammad saw.

Mayang Seludang atau dikenal dengan nama Puteri Indo Cina merupakan puteri dari penguasa Negeri Jeumpa yang nenek moyangnya berasal dari Indo-Cina. Ia menikah dengan Manhaj Syahriar yang berasal dari keluarga bangsawan Dinasti Sasanid Persia.

Salman berasal dari keluarga kerajaan Persia yang pernah berjaya antara tahun 224 sampai tahun 651 M. Dalam perjalanan ke Asia Tenggara, pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Selain tampilan fisiknya yang menarik, sebagai seorang dari keluarga istana, pangeran Salman mendapatkan perhatian khusus sehingga diambil menantu oleh penguasa negeri Jeumpa dan akhirnya dinikahkan dengan dengan Puteri istana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang.

Setelah menikah dengan Puteri Jeumpa, Pangeran Salman tidak ikut bersama rombongan untuk meneruskan perjalanan ke Selat Malaka sebaliknya ia bersama isterinya hijrah ke Perlak setelah mendapatkan izin dari mertuanya "Meurah Jeumpa". Pangeran Salman dikemudian hari kelak menjadi raja di Perlak dengan gelar Maharaj Syahriar Salman.

Dari perkawinaannya dengan pangeran Salman, puteri Mayang Seludang dianugerahi empat putera dan seorang puteri. Keempat putera itu adalah Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, dan Syahir Tanwi dan seorang puteri itu adalah Tansyir Dewi.

Referensi

  • Hj. Pocut Haslinda Syahrul, MD, Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI, Pelita Hidup Insani, Jakarta, 2008
Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools