Puteri Nurul A’la

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Puteri Nurul A’la, Perdana menteri Kerajaan Islam Peureulak

Wanita - Wanita Aceh adalah wanita-wanita yang luar biasa di zaman Kerajaan Aceh, baik dari zaman Kerajaan Jeumpa Aceh hingga Kerajaan Aceh Darussalam sampai Zaman Aceh jadi Provinsi, siapa yang tidak mengenal Putro Manyang Seulodong,Puteri Makhdum Tansyuri,Putri Betung,Nahrishah,Ratu Tajul Alam Safiatuddin,Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Cut Nur Asikin dan lain-lainnya.

Kerajaan Perlak Islam juga melahirkan beberapa perempuan pilihan yang berperan dalam kehidupan bangsa dan negaranya pada masa itu, di antaranya adalah Puteri Nurul A’la yang dilantik menjadi Mangkubumi dan Puteri Nurul Qadimah yang memegang peranan dalam bidang ekonomi pada masa itu dengan jabatannya sebagai ketua bendahara kerajaan (baitul mal). Puteri Nurul A’la adalah pu¬teri Sultan Perlak kesebelas, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1108 M). Pu¬teri Nurul A’la meneruskan perjuangan ayahnya dengan menduduki jabatan sebagai Mangkubumi atau perdana menteri pada masa Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1108-1134 M). Selain sebagai perdana menteri, Puteri Nurul A’la juga menjabat sebagai panglima perang yang gagah berani pada masanya. Untuk mengenang Riwayat Puteri Nurut A’la, masyarakat Aceh mengabadikannya dalam bentuk cerita rakyat yang dikenal dengan Hikayat Puteri Nurul A’la.

Hikayat tersebut menceritakan bahwa dulu ada seorang raja yang berkuasa di Perlak yang wilayahnya terletak di Blang Perlak antara muara Krueng Tuan dan Krueng Seumanah. Setelah lama menikah, raja itu belum mempunyai keturunan lalu ia bernazar kalau ia diberi putera, ia akan memandikan puteranya di laut dekat Kuala Perlak.

Tidak berama ama kemudian, raja tersebut dikarunial seorang putera yang diberi nama Ahmad Banta dan seorang puteri yang diberi nama Puteri Nurul A’la. Setelah puteranya besar, raja tersebut menunaikan nazarnya untuk memandikan puteranya di laut. Sesampai di Kuala Perlak ia berhenti dan membuat rakit lalu memandikan puteranya itu di atas rakit dengan upacara khusus.

Setelah acara memandikan selesai, tiba-tiba datang ikan besar menerkam dan mendorong putera raja tersebut ke tengah-tengah laut. Raja dan orang-orang yang menyaksikan acara tersebut terkesima hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pulang dengan membawa duka. Sesampai di istana, Raja Perlak bertanya kepada paranormal apakah anaknya masih hidup dan kemana perginya. Paranormal itu menjawab bahwa anaknya masih hidup dan diselamatkan oleh Nahkoda kapal dan dibawa ke negeri Jayakarta. Raja Perlak juga diberi saran tidak perlu khawatir karena anaknya selamat dan akan kembali lagi karena puterinya nanti setelah dewasa akan membawa kakaknya kembali ke Perlak dengan perahu yang terbuat dan pohon perlak yang ditebang di Sungai Peunaron. Mendengar jawaban paranormal tersebut, Raja dan Permaisuri Perlak sedikit lega namun tetap menyimpan kesedihan ditinggal puteranya.

Untuk mengingatkan agar Puteri Nurul A’la kelak mencari kakaknya, dibuatlah syair secara khusus untuknya:

Allahi hai do doda idang Rangkang di blang tameh Bangka Beurijang rayeuk putroe seudang Tajak teubang peurlak raya

Allah hai do doda idang Cicem subang jiphe meugisa Ngon teer rayeuk bungoeng keumang Kayee disimang peuget keumang Jak kutimang bungong meurak Kayee sibak di leuen Istana Beurijang rayeuk puteh meuprak Beukeut tamat beuliong raya

Jak kutimang bungong langsat Bee ji mangat bungong langa Beuridjang rayeuk puteh lumat Bak jeuet tamat keumudue bechtra

Allah hai do doda idi Anoe pasi riyeuk tampa Beurijang rayeuk cut putehdi Gantoe ai adoen ta mita

Allah hai do doda idang Bungong mancang rhot meukeuba Bak rang rajeuk bungong keumang Jak tueng abang di Jayakarta

Jak kutimang bungong sukon Bak sitahon boh hantomna Beurijang rayeuk puteh sabon Beu-ek tapeutron bechtra raya

Bukon sayang lon eu simplah Lam geu keubah soe ngui hana Bukon sayang lon eu nang mah Dalam sosah ingat keubantu

Bukan sayang lon eu peutoe Peunoh asoe meuih permata Bukan sajang lon eu putroe Da wok geumue ro ie mata

Artinya:

Mari kuayu kubuaikan Dangau di sawah tiang Bangka Lekaslah besar putrid sedang Pergilah tebang peureulak raya

Mari kubuai dan kudendang Unggas Subang terbang berkisar Jikalah besar bunga kembang Kayu disimpang buatkan bahtera

Kembang merak mari kutimang Kayu sebatang muka istana Lekaslah besar putih Cemerlang Sanggup memegang beliung raja

Mari kutimang bunga langsat Bau yang sedap bunga kenanga Lekaslah besar putih lumat Cakap memegang kemudi bahtera

Allah hai putrid mari kubuai Pasir dipantai riak menimpa Lekas remaja cut putihdi Pengganti ayah cari kakanda

Allah hai putrid mari kutimbang Bunga mancang gugur merata Lekaslah besar wahai kembang Jemput abang di Jayakarta

Mari kupangku bunga sukun Phon sitaloh buah tak ada Lekaslah besar putih sabun Sangguo menurun bahtera raya

Saja terharu memandang simplah Tersimpan indah yang pakai tak ada Alangkah sayang bunda dan ayah Dalam susah mengenang banta

Sedih hatiku melihat peti Penuh berisi intan permata Sayang sekali permaisuri Lalai beruarai air mata


Inang istana Perlak selalu mendendangkan lagu tersebut untuk Puteri Nurul A’la kecil dengan harapan ketika dewasa ia mengingat isi pesan tersebut. Dan setelah dewasa, Puteri Nurul A’la mengingat semua pesan yang ada dalam syair tersebut. Ia meminta dibuatkan perahu dan pohon perlak yang tumbuh di Sungai Peunaron.

Karena sudah sudah lama ditunggu-tunggu, permintaan Pu¬teri Nurul A’la langsung dika¬bulkan. Setelah jadi, saatnya perahu ditarik namun setelah semua usaha dikerahkan perahu tidak beranjak dari tempatnya. Puteri Nurul A’la sedih dan pada malam harinya Ia bermimpi untuk menarik perahu itu ke laut keponakannya yang bernama Puteri Nurul Kadimah harus dibungkus kain kafan untuk menjadi bantalan perahu dan perahu itu ditarik dengan sehelai rambut keponakannya itu.

Setelah bermimpi Puteri Nurul A’la semakin sedih namun Puteri Nurul Kadimah rela menjadi bantalan mencari kakaknya yang hilang. Setelah semuanya sepakat. Puteri Nurul Kadimah dibungkus dengan kain kafan dan ditempatkan di bawah perahu untuk menjadi bantalan sedangkan Puteri Nurul A’la menarik perahu itu dengan sehelai rambut milik keponakannya itu sementara orang-orang mendorong dari belakang. Perahu itu bergerak dan akhirnya sampai ke laut.

Puteri Nurul Ala diiringi pengawalnya lalu melaju menuju Jayakarta. Sesampainya di sana ia langsung diserang dan kalah tetapi sempat melontarkan cincin kakaknya itu hingga jatuh di depan Raja Jayakarta. Setelah melihat cincin itu, Raja Jayakarta tahu kalau puteri cantik itu adalah adiknya. Ia lalu pergi sendiri mengejar adiknya dan setelah bertemu keduanya tinggal bersama. Puteri Nurul A’la dilamar oleh Berbu Tapa dan menerima lamaran tersebut dengan syarat Ia harus pulang dulu ke Perlak.

puteri Nurul Ala pulang diantar prabu Tapa dan ketika tiba di Perlak Prabu Tapa disuruh tinggal di kampong Tjek Brek sementara ia tinggal di Paya Meuligoe. Prabu Tapa menagih janji Puteri Nuru A’la. Puteri Nurul A’la minta tenggang tiga bulan untuk menyiapkan segalanya. Namun selama tiga bulan tersebut ia malah mempersiapkan ilmu untuk melawan Prabu Tapa.

Sementara itu, kakaknya setelah tiba di Perlak tidak lama kemudian mangkat. Mengetahui hal itu, Puteri Nurul A’la takut dan lari ke Simpang Peunaron di Blang Perak. Prabu Tapa marah dan mengejar Puteri Nurul A’la yang lari ke Krueng Peunaron. Lubok Pancaningan dan meninggal di sana.

Tidak menemukan Puteri Nurul A’la. Prabu Tapa bertambah marah dan membunuh setiap orang di Kampung Beuringan karena itu orang-orang menyebut kampung itu dengan Kampung Teungku di Bungeh.

sumber

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools