Rehabilitasi Lahan Pertanian Pascatsunami
Dari AcehPedia
Bencana alam tsunami tidak saja membawa dampak pada tatanan kehidupan, namun juga berdampak pada sektor pertanian. Gelombang tsunami telah mengubah sebagian besar permukaan tanah, terutama pertanian yang ada di sepanjang garis pantai daerah Aceh yang terkena musibah tsunami. Perubahan tersebut tergolong sangat parah bagi sebagian petani yang terkena dampak tsunami, hal ini dikarenakan pada lahan pertanian mereka kini tanahnya sudah bercampur dengan lumpur pasir yang berasal dari dalam laut.
Adanya campuran lumpur pasir laut tersebut telah mengubah tingkat kesuburan tanah para petani, hal ini membeikan dampak pada kualitas dan hasil panen yang mereka rasakan pasca tsunami. Untuk itu diharapkan perlu adanya upaya penanggulangan masalah tersebut dengan jalan melakukan rehabilitasi lahan.
Dasar laut pada umumnya terdiri atas bahan pasir yang didominasi oleh kuarsa yang sukar lapuk. Di perairan dangkal dan landai serta terdapat muara sungai, pasir tersebut dapat dilapisi oleh sedimen halus.
Kecepatan aliran sungai yang mendekati muara sudah lambat, bahan erosi yang halus dengan ukuran lempung (clay) saja yang masih terbawa aliran. Bahan sedimen tersebut umumnya berwarna kecoklatan, terutama di daerah Sumatera di mana tanah di daerah pengaliran sungainya didominasi oleh tanah yang sudah tua (formasi pleistosin atau lebih tua). Warna kecoklatan bukan merupakan warna asli dari lempung pada umumnya, tetapi adalah oksida besi yang menyelimuti lempung tersebut.
Lumpur laut juga banyak mengandung bahan organik yang berasal dari jatuhan bahan segar vegetasi yang ada di sepanjang pantai, di samping yang terikut dalam aliran sungai. Keberadaan bahan organik segar dalam endapan yang selalu jenuh air menyebabkan proses penguraian/pembusukan terjadi dalam suasana reduksi (miskin oksigen).
Dalam suasana reduksi, besi yang semula memberikan warna kecoklatan pada bahan endapan berubah menjadi besi reduksi yang sifatnya larut yang berwarna hijau cerah. Pada suasana reduktif dan kaya bahan organik, lumpur laut akan berwarna kelabu gelap sampai kehitaman. Tahapan reduksi berikutnya menyebabkan sulfat yang terdapat dalam air laut juga dapat direduksi menjadi sulfida, suatu ciri bau busuk bila lumpur laut tersebut diusik atau terekspose ke udara.
Dengan datangnya bahan sedimen secara berkesinambungan, timbunan lumpur laut akan semakin tebal. Bila sumber bahan tererosi berasal dari formasi geologi tua, clay mineralnya didominasi oleh tipe kaolinitik, suatu tipe mineral lempung yang mempunyai kemampuan memegang nutrisi rendah.
Bila bahan sedimen cukup lama berada dalam laut akan terjadi transformasi tipe mineral lempung yang semula daya ikat (adsorption) nutrisi rendah menjadi lebih tinggi. Nutrisi juga dapat diikat dan disediakan oleh bahan organik.
Air laut mengandung berbagai garam, utamanya garam dapur (NaCl), di samping itu terdapat juga garam lain berupa kombinasi kation basa (K, Ca, Mg) dan anion sulfat, bikarbonat dan klor. Kandungan ion tersebut dapat mencapai $> 500 me/l, suatu kondisi tingkat kegaraman yang sangat jauh di atas kondisi tanah pertanian pada umumnya ($< 1 me/l).
Bahan organik segar yang berasal dari tumbuhan/tanaman dan hewan serta mayat manusia yang tertimbun bersama lumpur akibat tsunami, dalam proses peruraian/pembusukannya juga menyebabkan kondisi lumpur menjadi sangat reduktif.
Bau yang menyengat dapat berasal dari hasil uraian secara reduktif yang berupa gas sulfida dan gas amoniak disertai jumlah dan macam jasad renik pengurai yang masih sangat besar (ukuran normal adalah 107 cfu/g). Suatu kondisi yang sangat tidak sehat untuk lingkungan, terutama dapat menjadi sumber wabah penyakit menular.
Berdasar atas karakter air laut dan lumpur laut tersebut, maka dapat disarikan dampak yang dapat timbul bilamana lumpur laut terangkut ke lahan pertanian, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara akibat badai tsunami.
1. Kandungan garam terlarut yang sangat tinggi, baik berupa nutrisi maupun yang bersifat toksik bagi tanaman (terutama boron), menyebabkan keracunan bagi tanaman secara umum, dimulai dari pecah dan busuknya jaringan akar.
2. Suasana lumpur laut yang reduktif diperparah oleh adanya bangkai hewan dan mayat menyebabkan rusaknya sistem perakaran tanaman yang masih tersisa karena ketersediaan oksigen yang menjadi sangat terbatas.
3. Peruraian bahan organik yang semula tertahan akibat kelangkaan oksigen di lumpur sewaktu ada di laut dapat menjadi lebih cepat bilamana cukup tersedia sinar matahari dan adanya aliran air segar.
Prinsip dasar rehabilitasi
Rehabilitasi/reklamasi lahan yang tertimbun lumpur laut pada prinsipnya merupakan upaya untuk menurunkan kegaraman tanah, mengubah suasana reduktif menjadi oksidatif dan mengurangi kelebihan natrium yang dipegang oleh koloid tanah.
Kecepatan pemulihan lahan tersebut antara lain tergantung dari topografi lahan, komposisi (tekstur) dan ketebalan lumpur, jenis tanah asli, keberadaan sumber air, bahan organik yang masih potensial untuk dirombak secara aerob/oksidatif, dan peruntukan lahan.
1. Pembilasan, merupakan upaya menghilangkan garam yang bersifat larut. Umumnya dilakukan dengan memanfaatkan air segar/hujan yang berfungsi sebagai pengencer dan pembawa garam terlarutkan tersebut.
Garam yang cepat hilang adalah garam yang berasal dari kation Na, Ca, Mg, dan K, sedangkan anionnya adalah klor, sulfat, dan boron. Untuk tujuan ini, lumpur sebaiknya dalam keadaan kering/lembab sehingga partikel lumpur tidak ikut terbawa oleh air bilasan. Lumpur yang bahan dasarnya halus (clay) akan menggumpal dan keras bila dikeringkan, agar air dapat meresap ke dalam lumpur kering tersebut, maka bongkahan harus dihancurkan/dihaluskan terlebih dahulu.
Lumpur yang banyak mengandung pasir pada umumnya mempunyai kemampuan melarutkan air lebih cepat. Proses pengeringan cukup sulit untuk dilaksanakan bila keadaan topografinya berupa cekungan dan timbunan lumpur cukup tebal dan halus. Tumpukan bahan lumpur kering tersebut dijadikan guludan/bedengan memanjang yang arahnya tegak lurus dengan arah aliran air.
2. Percepatan penguraian bahan organik dalam lumpur juga dapat sekaligus dikerjakan dengan pengeringan dan penderaian lumpur laut. Prinsip utama adalah pengubahan suasana reduktif menjadi oksidatif (penghawaan), bahan organik yang semula terurai secara reduktif yang menimbulkan gas busuk, dengan adanya sirkulasi udara dalam lumpur akan terurai menjadi garam-garam organik yang larut dalam air.
Penguraian akan lebih efektif bila lumpur tidak lagi jenuh air, dan dengan kombinasi pembilasan sekaligus dapat mempercepat proses penguraian.
3. Setelah garam laut dapat dibilas dan laju penguraian bahan organik telah reda, maka diperlukan tindakan perbaikan status nutrisi di dalam lumpur. Lumpur laut yang telah terbebas dari pengaruh garam laut, kandungan nutrisi yang dipegang oleh koloid lumpur didominasi oleh ion natrium, suatu unsur yang tidak dikehendaki oleh tanaman.
Kejenuhan natrium dalam lumpur laut biasanya mencapai > 15 persen dan kebasaan tanah cukup tinggi (pH > 8). Kedua hal tersebut tidak disukai oleh kebanyakan tanaman. Perbaikan tanah dikerjakan dengan proses penukaran, natrium harus digantikan dengan nutrisi lain.
Bahan penukar yang secara umum tersedia adalah kalsium yang dapat diberikan sebagai kapur atau gipsum. Untuk mencegah kesadahan tanah dapat diberikan serbuk belerang yang dikombinasikan bersama kapur. Kapur yang diberikan sebaiknya bukan dalam bentuk kapur pertanian, lebih cocok kapur bangunan/kapur yang telah dibakar mengingat reaktivitasnya yang lebih cepat.
