Sebayang
Dari AcehPedia
Sebayang merupakan keturunan Raja Lambing yang berasal dari kata terbayang (bahasa karo, yang artinya orang yang dipasung). Raja Lambing pernah dipasung di Perbesi oleh Raja Pencawan, karena dianggap gila dan kurang waras akibat Istrinya terbunuh akibat ulah penggembala Raja Pencawan yang membentangkan ular di jalan setapak antara desa Limang dan Perbesi, sekitar daerah urok penulihen. Sang istri tercinta terkejut dan melompat ke belakang dan terkena tongkat Raja Lambing. Raja Lambingpun mengejar si pengembala hingga sampai di desa Perbesi, tapi ternyata si pengembala sudah terlebih dahulu menyampaikan kepada Raja Pencawan, dia sedang dikejar seseorang. Ketika Raja Lambing sampai di Desa Perbesi, dia sudah ditunggu para pengikut Raja Pencawan dan menangkap Raja Pencawan dan memasungnya.
Raja Lambing dipasung oleh Raja Pencawan tidak jauh dari balai Raja, tempat dimana sering diadakan rapat dalam mengambil keputusan-keputusan penting di Desa Perbesi. Terkadang para pengikut Raja Pencawan menyindir dengan kata-kata, coba kita dengarkan pendapat si terbayang (maksudnya Raja Lambing) itu. Kemudian Raja Pencawan memberikan kesempatan kepada Raja Lambing untuk memberikan pendapatnya, hal itu sering terulang, dan pendapat dan Solusi yang diberikan Raja Lambing sering dianggap lebih baik dari pendapat dan usulan para pesarta Rapat.
Hingga akhirnya Raja Lambing diangkat oleh Raja Pencawan menjadi Saudaranya, dan memberikan salah satu Istrinya Beru Perangin-angin yang belum juga memiliki keturunan. Ada satu kata Raja Lambing yang sampai saat ini masih sering diucapkan anak keturunannya, Bangkar e pe turah ade kusuan (Bambu yang sudah keringpun kalo saya yang tanam akan tumbuh), Raja Lambingpun mengobatinya istrinya, dan akhirnya memiliki anak yang disebut anak si terbayang (yang dipasung) dari istri Beru Perangin-angin.
Dari si terbayang akhirnya menjadi sebayang, inilah menjadi cikal bakal marga sebayang, yang kemudian tidak hanya tinggal di Perbesi, ada yang pindah ke Kuala, Tiga Binanga, Pertumbuken dan Kuta Gerat.
