Smong, Kearifan Ekologi Simeulue

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Tidak banyak yang mengetahui, apa itu smong? Smong adalah gelombang pasang yang besar seperti halnya tsunami. Pada 1907, smong pernah terjadi di Pulau Simeulue; Provinsi Aceh. Namun, istilah tsunami lebih akrab di telinga masyarakat.Jika mendengar kata tsunami, ingatan kita langsung tertuju ke Aceh. Pada saat smong terjadi, tepatnya pada Jumat, 14 Januari 1907, banyak masyarakat berada di Salur untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Gelombang pasang laut yang besar (tsunami) itu, ternyata bukan yang pertama kalinya terjadi di Aceh. Peristiwa serupa—, kendati dalam skala yang lebih kecil, pernah menimpa Pulau Simeulue pada tahun 1907. Sebuah Ensyklopedia dari Hindia Belanda di bawah redaksi D.G. Stibbe yang terbit tahun 1909. mengungkapkan bahwa di Simeulue sering terjadi gempa bumi yang bersifat ringan. Pada tahun 1907, seluruh daerah pantai barat dilanda ombak pasang yang cukup dahsyat dan menelan banyak korban. Pada saat itu, sejumlah besar kampung benar-benar hilang ditelan ombak besar tersebut. Masyarakat Simeulue kemudian menyebut ombak besar itu dengan terma ”smong”.

berdasarkan riset dosen Antropologi pada Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Bustami Abu Bakar pada tahun 2005, mendapatkan informasi bahwa smong terjadi pada hari Jumat, 14 Januari 1907, sekira pukul 14.00 WIB (ba’da shalat Jumat), yang berpusat di Salur, Kecamatan Tepah Barat. Bustami berhasil mewawancarai Nurisah dan Iskandar, dua orang kakak beradik yang menjadi saksi hidup peristiwa smong itu. Pada saat itu, Nurisah berusia sembilan tahun, sedangkan adiknya Iskandar baru lima tahun. Yang membuat saya kagum, saat saya temui, keduanya dalam kondisi sehat dan cukup bugar untuk orang seusia mereka. Nurisah saya lihat baru saja menunaikan shalat dan sambil berdiri, sementara adiknya baru usai melaksanakan shalat berjamaah di mesjid.

Menurut mereka dan juga para informan lain, pada hari terjadinya smong, masyarakat banyak yang datang ke Salur untuk menunaikan shalat Jumat. Setelah shalat Jumat, terjadi gempa yang sangat kuat. Tak lama kemudian, air laut surut dan masyarakat dengan leluasa mengambil kawanan ikan yang menggelepar-gelepar. Dalam hitungan menit, air yang surut kembali dalam wujud gelombang besar dan kokoh dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Korban nyawa, bangunan, dan harta benda tak terelakkan. Jadi, gejala-gejala smong dan akibat yang ditimbulkannya sebangun dengan tsunami yang menimpa daratan Aceh seabad kemudian.


Kearifan Lokal Smong dan Nafi-nafi

Peristiwa smong tahun 1907 diceritakan secara turun-temurun antargenarasi dalam masyarakat Simeulue. Bukan hanya cerita tentang kedahsyatan smong dan akibat yang ditimbulkannya, tetapi juga mengenai gejala-gejala alam yang mendahuluinya. Sehingga generasi yang hidup pada masa sekarang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gejala-gejala alam yang berpotensi mendatangkan smong. Kisah smong diceritakan oleh nenek atau ibu kepada cucu dan anak-anak pada waktu senggang atau menjelang tidur. Cerita lisan yang dikisahkan secara turun-temurun itu disebut terma nafi-nafi.sebuah kisah di hari Jumat, Setelah Gempa besar tak lama kemudian, air laut surut dan masyarakat dengan leluasa mengambil kawanan ikan yang meng-gelepar-gelepar. Dalam hitungan menit, air yang surut kembali dalam wujud gelombang besar. Ia menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.

Melalui nafi-nafi, pengetahuan tentang tanda-tanda smong tetap lestari dan tersebar luas di Simeulue dan nyaris meliputi semua tingkatan usia. Karena nafi-nafi, saat tsunami membunuh ratusan ribu penduduk Aceh tahun 2004, masyarakat Pulau Simeulue yang dikelilingi lautan hanya mendapati tujuh orang penduduknya meninggal dunia. Ketika gempa dahsyat menggoyang Simeulue pada Minggu kelabu itu, laki-laki dewasa di sana segera berlari ke pinggir laut. Begitu melihat air laut surut, mereka membawa anggota keluarganya ke gunung atau perbukitan, sehingga terhindar dari amukan tsunami.

Setelah salat Jumat, terjadi gempa sangat kuat. Tak lama kemudian, air laut surut dan masyarakat dengan leluasa mengambil kawanan ikan yang meng-gelepar-gelepar. Dalam hitungan menit, air yang surut kembali dalam wujud gelombang besar. Ia menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.

Lain masyarakat Banda (Aceh) dengan orang Simeulue yang tidak bisa dilepaskan dari rangkaian sejarah terjadinya smong. Smong senantiasa membekas dalam ingatan masyarakat Simeulue. Pengalaman pahit itu (1907) secara turun-temurun dialihlisankan kepada generasi Simeulue dalam bentuk nafi-nafi.Nafi-nnfi merupakan sastra lisan sekaligus kearifan lokal yang dimiliki orang Simeulue. Smong menjadi tema yang kerap diangkat di dalamnya. Akibatnya, pada saat smong (tsunami) terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, tidak banyak korban yang berjatuhan di Simeulue.

Peristiwa smong tahun 1907 diceritakan secara turun-temurun antargenarasi dalam masyarakat Simeulue. Bukan hanya cerita tentang kedahsyatan smong dan akibat yang ditimbulkannya, tetapi juga mengenai gejala-gejala alam yang mendahuluinya. Sehingga generasi yang hidup pada masa sekarang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gejala-gejala alam yang berpotensi mendatangkan smong. Kisah smong diceritakan oleh nenek atau ibu kepada cucu dan anak-anak pada waktu senggang atau menjelang tidur. Cerita lisan yang dikisahkan secara turun-temurun itu disebut terma nafi-nafi.

Melalui nafi-nafi, pengetahuan tentang tanda-tanda smong tetap lestari dan tersebar luas di Simeulue dan nyaris meliputi semua tingkatan usia. Karena nafi-nafi, saat tsunami membunuh ratusan ribu penduduk Aceh tahun 2004, masyarakat Pulau Simeulue yang dikelilingi lautan hanya mendapati tujuh orang penduduknya meninggal dunia. Ketika gempa dahsyat menggoyang Simeulue pada Minggu kelabu itu, laki-laki dewasa di sana segera berlari ke pinggir laut. Begitu melihat air laut surut, mereka membawa anggota keluarganya ke gunung atau perbukitan, sehingga terhindar dari amukan tsunami.

Betapa kuatnya pengaruh smong pada masyarakat ini. Persoalan smong ini akan lebih menarik lagi saat dikaji dan didekati melalui kajian ekologi bahasa/eko-linguistik. Dari per-spektif ekolinguistik, bertahannya suatu bahasa (istilah smong) bergantung pada sejauh mana penuturnya memelajari, memakai, dan mentransmisikan bahasa tersebut (Haugen, 1972).Poin yang ditekankan Haugen, menempatkan smong selalu hidup dalam ruang kehidupan sosial masyarakat Simeulue. Ekologi bahasa mengkaji hubungan/ pengaruh timbal balik antara ekologi dan linguistik (ilmu kebahasaan).

Sapir dalam Fill and Muhlhausler (eds) (20012) mengungkapkan khazanah kosakata dan ungkapan-ungkapan metaforis yang kaya dan lengkap mencerminkan dan merefleksikan perbendaharaan pengetahuan komunitas penutur tentang lingkungan ragawi, sosial, gagasan kolektif, karakter lingkungan hidup, dan kebudayaan para pemilik bahasa itu.

Jika dilihat dari analisis wacana ekokri-tis, ada lima hal yang dikandungi smong, pertama menyangkut pengertian; kedua,karakter atau ciri-ciri; ketiga proses/ daya rusak. Selanjutnya langkah antisipatif warga; dan dampak yang ditimbulkan smong baik secara fisik maupun psikis.Saat smong kedua terjadi pada 27 .Desember 2004 yang lalu, ma-syarakat Simeulue serta-merta berlarian ke tempat yang lebih tinggi. Gempa, surutnya air laut, dan dalam hitungan detik, diikuti dengan gelombang pasang merupakan tanda-tanda yang menyaratkan mereka untuk menyelamatkan diri.

sumber

Bustami Abubakar, dalam artikel "Nafi-Nafi; Kearifan Lokal Masyarakat Simeulue" 2009
 
Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools