Teungku
Dari AcehPedia
(Dialihkan dari Tengku)
Teungku di Aceh, menurut Snouck Hurgrunje (1985), dipergunakan untuk beberapa orang:
- Pertama, sebutan untuk para leubè atau leubei (lebai atau santri). Sebutan untuk kategori ini, juga termasuk untuk golongan yang bukan ulama, namun ia tekun melakukan ibadah maupun seorang haji yang telah menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah.
- Kedua, panggilan untuk orang malém. Malém berasal dari bahasa Arab, asal kata mualim, yang artinya guru. Orang yang disebut malém, memiliki pengetahuan mengenai kitab-kitab keagamaan, kalau di gampong-gampong umumnya kitab kuning. Teungku juga diperuntukkan bagi seorang além (asal kata alim; bahasa Arab, berarti orang yang berilmu) yang telah melengkapi pendidikan agamanya.
- Ketiga, panggilan teungku juga diperuntukkan untuk pria dan wanita yang memberi pengajaran dasar mengaji al-Qur’an, baik di meunasah maupun di dayah. Biasanya, pengajaran dasar mengaji al-Qur’an di gampong-gampong dilaksanakan sejak habis dhuhur sampai ashar, dan habis ashar sampai magrib.
- Keempat, teungku juga dimaksudkan sebagai panggilan untuk kadhi (kali) yang bertindak sebagai hakim agama dalam wilayah ulèèbalang. Sebutan terakhir ini sudah jarang ditemui, kecuali beberapa orang yang sudah cukup tua, yang memang pernah menjadi hakim agama masa dahulu.
