Terumbu Karang

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Terumbu karang merupakan ekosistem laut dangkal yang sangat produktif dan khas terdapat di daerah tropis. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif terutama kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme karang (filum Scnedaria, kelas Anthozoa, ordo Madreporaria Scleractinia), alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat, (Nybakken, 1992). Unit dasar dari pembentuk terumbu adalah polip karang yang bersimbiosis dengan alga yang hidup pada jaringan karang. Hubungan simbiosis ini adalah faktor kunci yang menjelaskan persyaratan lingkungan yang ketat bagi pertumbuhan karang karena alga yang bersimbiosis ini memerlukan cahaya untuk melakukan fotosintesis dan dengan mudah dapat di musnahkan oleh sedimentasi.

Kehidupan disekitar terubu karang
Kehidupan disekitar terubu karang

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya dibandingkan dengan ekosistem lainnya dan juga keanekaragaman hayatinya. Selain memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan bermain bagi berbagai biota; ekosistem terumbu karang juga menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, dan kerang mutiara. Selain itu, terdapat beberapa spesies yang berasosiasi dengan terumbu karang – anemon laut, kuda laut, dan lain-lain yang merupakan bahan pembuatan obat-obatan seperti antibiotik, anticoagulant, antileukemic, cardioactive, dan penghambat pertumbuhan kanker.

Selain itu, terumbu karang merupakan sumber dari pembuatan hiasan dari karang (ornamental corals); karang yang luas dan batu kapur karang yang keras digunakan sebagai bahan pembuatan jalan dan bangunan serta bahan baku industri. Karang batu juga ditambang secara intensif untuk pembuatan kapur. Kegunaan tersebut di atas sering menimbulkan konflik dengan kebutuhan untuk memelihara terumbu karang guna mendukung produksi ikan dan mempertahankan struktur fisik terumbu yang berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap abrasi. Pengeksploitasian terumbu karang dengan jalan mengambilnya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan habitat ikan dan berbagai hewan laut lainnya. Selanjutnya, tutupan karang menjadi berkurang dan pada akhirnya menurunkan tingkat produktifitas organisme yang berdiam disana. Lebih dari itu, keindahan pemandangan taman laut akan memudar sehingga peranan terumbu karang sebagai atraksi wisata akan menghilang dan berpengaruh negatif terhadap penerimaan devisa melalui pariwisata bahari.

Terumbu Karang Keras
Terumbu Karang Keras
Terumbu karang di perairan laut Indonesia diperkirakan seluas 75.000 km2 (Direktur Bina Sumber Hayati, 1997) dengan potensi lestari sumber daya ikan sebesar 25-45 ton/km2/tahun pada kondisi yang masih baik. Pada kondisi terumbu karang yang mengalami kerusakan berat produksi ikan akan turun secara drastis menjadi sekitar 2-5 ton/km2/tahun. Pada terumbu karang yang baik panenan lestari yang dianjurkan adalah 20 ton/km2/tahun, (Soekarno et. al, 1995). Terumbu karang di Indonesia sebagian besar dalam keadaan baik maka dapat dibayangkan betapa besar produksi ikan yang bisa dihasilkan setiap tahun. Kenyataan menunjukkan bahwa tinggal 7 persen dari seluruh terumbu karang di Indonesia yang kondisinya sangat baik, dan sisanya sebagian besar dalam keadaan jelek dan sangat jelek, (Suharsono, 1996). Dihitung secara ekonomis maka nilai terumbu karang saat ini kurang lebih 70 ribu USD per kilometer persegi dari hasil perikanan, pariwisata dan sebagai pelindung pantai terhadap abrasi. Total nilai terumbu karang Indoneisa paling sedikit 4,2 miliar USD, dan setiap tahun mengalami penurunan paling sedikit 12 juta USD akibat kerusakan. Jika penangkapan dengan racun diganti dengan cara yang ramah lingkungan maka keuntungan yang akan dicapai diperkirakan sebesar 14,8 juta per tahun, (Republika, 12 Februari 2000).

Walaupun memiliki banyak kelebihan dan kegunaan, terumbu karang merupakan ekosistem yang rapuh dan mudah rusak akibat tekanan dari aktifitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa faktor penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang secara tidak langsung yang berasal dari aktifitas manusia adalah sedimentasi, limbah industri dan rumah tangga, limbah air panas, hydrocarbon, pestisida, herbisida dan limbah radio aktif. Sementara faktor penyebab secara langsung kerusakan terumbu karang akibat perbuatan manusia adalah penambangan batu karang untuk pembuatan kapur dan penambangan pasir; pengambilan karang dan kerang untuk koleksi dan perdagangan; penangkapan ikan dengan jaring murami, racun, tombak, dan bahan peledak; dan dampak sampingan dari pengembangan pariwisata seperti pembuangan jangkar pada saat menyelam, menginjak karang bagi penyelam pemula dan sebagainya.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools