Teuku Chik Di Tunong

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Biografi

Dalam peperangan dengan Belanda, Teuku Chik Muhammad bergabung dengan pasukan Teuku Ben Daud. Sebelumnya Teuku Chik Muhammad berperang bersama dengan Sultan pada waktu Sultan dan Panglima Polem menjadikan Pasee dan Aceh Utara sebagai pusat pertahanan. Atas jasa-jasanya itu, akhirnya Teuku Cut Muhammad diangkat sebagai uleebalang Keurueto dari sultan dengan sebuah surat pengangkatan yang menggunakan cap sikeureung (cap sembilan). Oleh karena itu, daerah keureuto terdapat dua uleebalang, yaitu Teuku Syamsarif yang diangkat oleh Belanda sebagai uleebalang Baroh (yang dikenal dengan nama Teuku Chik Di Baroh atau Teuku Chik Bentara) dan Teuku Cut Muhammad yang diangkat oleh sultan sebagai uleebalang Tunong yang kemudian diberi gelar Teuku Chik Tunong.

Teuku Chik Tunong adalah bukan orang yang gila pangkat dan kedudukan, bebas dari pengaruh asing. la sama sekali tidak mau tunduk kepada pengaruh asing yang seringkali menginjak-injak kehormatan nusa, bangsa, dan agama serta selalu menganggap musuh kepada bangsa asing seperti Belinda. Sifat ini dibawanya ketika menjadi uleebalang, Teuku Chik Tunong bukan sekedar uleebalang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, tetapi ia juga seorang pemimpin muslimin yang ditakuti lawan dan dihormati kawan.

Setelah menikah dengan Cut Nyak Meutia, Teuku Chik Tunong lebik bersemangat dalam melakukan perjuangan menentang kekuasaan Belanda karena perjuangannya didukung penuh oleh sang istri. Jadilah, mereka pasangan serasi yang saling membahu dalam perjuangan melawan imprialis dan kolonialis Belanda. Mengenai perjuangan Teuku Chik Tunong, Zentgraaff (1982: 148), pemah mengomentari dengan kata-kata "Sungguh sebuah kisah tersendiri. Mendadak, bagaikan kilat, ia melakukan serangan-serangan, sebentar di sini kemudian beralih di sana, dan menghilang jauh-jauh. Dia cukup arif memahami, agar tidak selalu melakukan perlawanan-perlawanan yang teratur terhadap pasukan Belanda".

Dalam melakukan peperangan Teuku Chik Tunong mempunyai strategi yang jitu dan matang. la bersama-sama dengan istrinya, sebelum mencegat patroli Belanda terlebih dahulu menyebar mata-mata. Dengan demikian, mereka dapat mempersiapkan pasukannya yang sedang melakukan operasi yang dianggap strategis. Cara ini dapat memberikan keuntungan besar karena Belanda dicegat secara tiba-tiba sehingga Teuku Chik Tunong dapat merampas senjata-senjata anggota pasukan Belanda.

Beberapa kali mereka berhasil mencegat patroli Belanda. Pada tahun 1902 pasukan Teuku Chik Tunong menyerang Detasemen Infantri di bawah komandan Van Steijn Parve yang berkekuatan 30 serdadu. Pada pertempuran itu, Belanda kehilangan 8 serdadu tewas dan luka sedangkan pada pihak pasukan Teuku Chik Tunong menderita 14 orang yang tewas (Zentgraff, 1982). Dalam bulan Agustus ia mencatat kembali penyerangan yang berhasil terhadap pasukan Belanda yang sedang melakukan patroli dari Simpang Ulim menuju ke Blang Ni.

Teuku Chik Tunong dapat mengetahui rute yang dilewati oleh pasukan Belanda tersebut dan kemudian menghancurkannya dekat jalan setapak tidak jauh dari Meunasah Jeuro. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh selama pertempuran dengan Belanda menambah kekuatan moral pasukan Teuku Chik Tunong untuk terus bertempur.

Salah satu pukulan keras yang diberikan pasukan Teuku Chik Tunong kepada Belanda terjadi pada bulan November 1903. Ketika itu, sebuah pasukan patroli yang dipimpin oleh Letnan Kok menaiki dua buah perahu yang bertolak dari Krueng Sampoe Niet menuju ke kampung Matang Reyeuk. Pasukan ini akan menghancurkan pasukan Teuku Chik Tunong yang akan mengadakan kenduri besar. Namun sebetulnya kenduri itu tipuan belaka. Sesuai dengan rencana, pasukan Kok akhirnya dapat dihancurkan oleh pasukan Teuku Chik Tunong.

Pukulan telak ini membawa pengaruh yang cukup besar kepada tentara Belanda, mereka merasa diperdayakan oleh orang Aceh. Tindakan Belanda yang dilakukan untuk menghadapi perjuangan Teuku Chik Tunong adalah sebagai berikut:

1. Mengadakan perundingan dengan Cut Nyak Asiah (bekas uleebalang Keureuto sebelum dibagi dua atau orang tua Teuku Chik Tunong). Melalui Cut Nyak Asiah, Van Heutz, gubernur sipil dan militer Aceh, menyatakan bahwa Teuku Chik Tunong sebagai uleebalang Keureuto di bagian Tunong dan hanya mengakui satu-satunya uleebalang Keureuto di bawah kepemimpinan Teuku Syamsarif (Teuku Chik Bentara Keureuto).

2. Memperbesar pasukan dan mengirim perwira-perwira yang cakap dalam menghadapi perang gerilya untuk melakukan operasi besar-besaran di daerah Pase/Keureuto.

Pasukan ini dipercayakan kepada Kapten HNA Swart yang terdiri dari dua batalyon infantri dan enam brigade pasukan Marsose (Ahmad, 1993: 44-45). Menghadapi pasukan Belanda yang besar dan terlatih itu, pasukan Teuku Chik Tunong yang dibantu Cut Nyak Meutia tidak gentar sedikitpun. Selain dari serangan-serangan yang gemilang. Seperti itu masih banyak lagi serangan-serangan kecil yang dilakukannya terhadap prasarana milik Belanda seperti jalan kereta api, hubungan telepon dan sejenisnya.

Semakin ganasnya serangan yang dilakukan oleh pasukan Teuku Chik Tunong menyebabkan Belanda gusar. Belanda membalasnya dengan membunuh penduduk yang tidak bersalah agar penduduk membenci Teuku Chik Tunong. Namun rupanya perhitungan ini meleset, penduduk malah makin percaya kepada Teuku Chik Tunong.

Selain itu Belanda yang kehabisan akal untuk menghadapi pasukan Teuku Chik Tunong ini, akhirnya pada bulan September 1903 Swart selaku komandan detasemen yang berkedudukan di Lhokseumawe meminta kepada Cut Nyak Asiah dan Teuku Syamsarif agar membujuk Teuku Chik Tunong turung gunung. Apabila tidak berhasil, Cut Nyak Asiah akan dijatuhi hukuman pembuangan (pengasingan) ke Subang. Pesan ini kemudian disampaikan kepada Teuku Chik Tunong dan Cut Nyak Meutia melalui utusan. Beberapa hari kemudian Teuku Chik Tunong pun turun menjumpai Cut Nyak Asiah (Zainuddin, 1966: 89).

Pada saat yang bersamaan pada pertengahan tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah bersama dengan pengikutnya seperti Panglima Polem, Muhammad Daud, dan lain-lain telah menghentikan perlawanan. Hal inilah menjadi bahan pertimbangan Teuku Chik Tunong dan istrinya Cut Nyak Meutia untuk menghentikan perlawanan terbuka.

Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1903 ia datang menyerahkan diri beserta pasukannya, dengan ditandai berlangsungnya suatu pertemuan antara Cut Nyak Asiah dan Teuku Chik Tunong dengan HNA Swart, komandan Detasemen Belanda di Lhokseumawe. Teuku Chik Tunong diterima oleh Belanda dan diperlakukan dengan baik serta dibenarkan menetap di Kenegerian Keureuto. Walaupun demikian mereka akan tetap melakukan perjuangan di bawah tanah (Zainuddin, 1966: 89; Talsya, 1977: 10).

Gugurnya Teuku Chik Tunong

Walaupun Keureuto tampaknya aman setelah penyerahan diri Teuku Chik Tunong dan istrinya, namun Belanda tetap mengadakan patroli untuk mengejar sisa-sisa pejuang Aceh yang masih tinggal. Dari sekian banyak patroli yang mereka lakukan terdapat sebuah patroli yang membawa petaka yang menggemparkan Belanda dari Lhokseumawe dan Kutaraja sampai ke Batavia. Malapetaka besar yang diderita Belanda tersebut terjadi pada 26 Januari 1996. Saat itu, sebuah patroli yang dikomandoi oleh sersan Vollaers dengan 16 orang anggota pasukan membangun bivak di Meurande Paya. Pasukan itu rupa-rupanya tidak bersikap hati-hati. Mereka membiarkan saja orang-orang Aceh yang berjualan ayam dan buah-buahan masuk dalam pagar. Tiba-tiba ada seorang Aceh memberi isyarat agar melakukan penyerangan. Semua anggota pasukan Belanda tewas, kecuali seorang yang sempat melarikan diri (Zentgraff, 1982: 120). Peristiwa ini amat menyakitkan bagi Belanda. Guna menebus kekalahan ini, Swart memerintahkan mencari pelaku utamanya. la memerintahkan Van Vuuren untuk menyelidikinya. Dari hasil penelitiannya, dia menemukan bukti yang cukup menyakinkan bahwa yang melakukan penyerbuan itu adalah Uleebalang Buah bersama-sama Petua Dullah. Van Vuuren berhasil juga menyingkap sebuah tabir rahasia yang selama ini terselubung, yaitu bahwa dalam penyerbuan itu sesungguhnya dimatangkan oleh Teuku Chik Tunong dan disalurkan melalui Keujereun Buah dan Peutua Dulah (Zentgraff, 1982: 121-122).

Terlepas benar atau tidaknya hasil penyelidikan itu, akhirnya Teuku Chik Tunong dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda, yang berarti ia menjalani hukuman gantung. Namun Van Daalen, yang waktu itu menjabat gubernur militer, merasa tidak pantas bagi seorang pejuang yang dahulunya seorang pejuang yang gagah berani kini akan menjalani hukuman gantung. Dia berhak menerima kematian yang terhormat, maka kemudian Van Daalen merubah vonis itu menjadi hukuman tembak mati. Pada tanggal 25 Maret 1905 pagi Teuku Chik Tunong dibawa ke tepi pantai Lhokseumawe untuk menghadapi regu tembak. Gugurlah seorang pahlawan Aceh (Zentgraff, 1982: 122). Perjuangannya kemudian diteruskan oleh istrinya Cut Nyak Meutia dan pengikut-pengikutnya.

Sumber

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools