Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah
Dari AcehPedia
Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah adalah seorang pemuda yang menjadi uleebalang terkemuka di Aceh. Ia merupakan anak dari pasangan Teuku Tjhik Sjamaun dan Potjut Unggaih.
Pulo Iboh merupakan tempat kelahiran dan tempat Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dibesarkan. Pulo Iboh memegang peranan penting dalam sejarah revolusi sosial Aceh tahun 1945-1946, yang disebut dengan kuta uleebalang (istana) naggroe Peusangan.
Pada saat usia 10 tahun, Teuku Muhammad Djohan Alamsjah diangkat sebagai uleebalang nanggroe. Pengangkatan itu dimuat diatas surat resmi Keputusan Kerajaan Aceh yang disebut dengan "Surat Tjap Sikureng" yang diserahkan langsung kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah.
Masa Pendidikan
Berita pengangkatan Teuku Muhammad Djohan Alamsjah sebagai uleebalang nanggroe diketahui oleh Belanda. Van Heutz sebagai Jendral Belanda membujuk permaisuri Uleebalang Peusangan yaitu ibunda dari Teuku Muhammad Djohan Alamsjah untuk mengizinkan putranya dibawa ke Kutaraja untuk disekolahkan. Belanda bermaksud mendidik Uleebalang muda ini di sekolah model Belanda untuk mempermudah kepentingannya. Namun, dengan tegas permintaan Belanda ditolaknya, karena Potjut Unggaih tidak ingin putranya menjadi orang kafir. Belanda tidak menyerah bahkan terus mengirimkan utusan untuk membujuk Potjut Unggaih.
Setelah bermusyawarah dengan seluruh handai taulannya, akhirnya Potjut Unggaih dengan berat hati mengizinkan putranya dibawa Belanda ke Kutaraja, pusat kekuasaan Belanda di Aceh. Izin diberikan oleh Ibunda Teuku Djohan Alamsjah dengan syarat putranya harus ditemani oleh seorang temannya yang juga harus disekolahkan oleh Belanda.
Akhirnya Teuku Tjhik Djohan Alamsjah berangkat ke Kutaraja beserta seorang pengawal dan seorang teman bernama Abdul Karim. Ia bersama Abdul karim belajar selama 3 tahun di sekolah Rakyat Guru Djam.
Setelah menjalani masa pendidikan yang dikehendaki Belanda, Teuku Muhammad Djohan Alamsjah serta teman dan pengawalnya yang setia diantar kembali ke Nanggroe Peusangan. Jendral Van Heutz menganggap uleebalang muda Aceh ini sudah cukup berhasil dijinakkannya. Ia dipercayakan kembali menjabat sebagai uleebalang Peusangan yang dipangkunya sesuai sarakata Sultan Aceh.
Pernikahan Teuku Muhammad Djohan Alamsjah
Pada tahun 1908, Sultan menyarankan kepada Uleebalang muda ini untuk mempersunting Tjut Njak Asiah, putri uleebalang Peureulak,Teuku Tjhik Abubakar Sidik dengan tujuan mempererat hubungan tali persaudaraan antara Nanggroe Peusangan dengan Nanggroe Peureulak. Lamaran uleebalang Peusangan yang masih belia itu diterima dengan penuh kegembiraan oleh Teuku Tjhik Abubakar Sidik. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putri pada bulan April 1912 yang diberi nama Potjut Ramlah.

