Teungku Chalidin
Dari AcehPedia
Teungku Chalidin adalah seorang ulama yang amat setia menulis seni Sya'er (kesenian tradisional masyarakat Gayo dalam bentuk syair, yang digunakan sebagai media dakwah dan pengembangan ilmu agama Islam). Dia pernah belajar ilmu agama Islam di Cut Merak, Bireuen, dan beberapa daerah lainnya di wilayah Aceh. Setelah selesai mempelajari ilmu agama, pada tahun 1930-an Tgk Chalidin kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan diri sebagai guru agama sepanjang hidupnya. Setelah cukup lama mengajar di berbagai tempat seperti Desa Bebesan, Kenawat, Uning, Tan, Ujung Gele, dan lain-lain, pada tahun 1974 Tgk Chalidin memasuki masa pensiun. Walupun sudah pensiun ia tidak pernah berhenti menjadi guru. Semangatnya tetap menyala "Sekali layar terkembang pantang langkah surut ke belakang".
Dari rumahnya yang kecil dan sederhana, dengan jalan yang sudah terbungkuk-bungkuk kerena usia sudah senja (80 tahun lebih) lelaki kelahiran Desa Bebesan, Aceh Tengah ini, tetap mengajar di Mesjid Kemili dan rumah-rumah sekitarnya. Bagi Tgk Chalidin mengajarkan ilmu agama adalah ibadah kepada Allah. Suatu pekerjaan lain yang dihadapinya selain sebagai guru adalah menulis puisi religius yang biasanya didendangkan atau dibacakan dalam seni sya'er. Sudah lebih dari 100 puisi lahir dari tangannya, yang seluruhnya bertemakan religius, diantaranya ada yang berjudul, Dunia dan Akhirat, Langit Bumi, Ahklak, Cerita Anak Yatim, Sampai Janji, dan lain-lain.
Namun diantara puisi-puisinya itu yang terkenal adalah puisi yang berjudul "Hari Kiamat". Puisi Hari Kiamat bercerita tentang hari yang akan datang yaitu hari musnahnya seluruh kehidupan di permukaan bumi ini. Suasana hari kiamat dilukiskan penyair dengan sesuatu yang mengerikan, sehingga pembaca benar-benar dapat membayangkan betapa dunia yang kita tinggali saat ini menjadi porak-poranda. Alam yang semula indah berubah menjadi berantakan. Tidak hanya keadaan fisik manusia yang digambarkan penyair tetapi juga menyentuh lebih jauh, misalnya bagaimana hubungan anak dan bapak, hubungan adik dan abang pada hari kiamat itu. Mereka tidak lagi saling berkasih-kasihan tetapi saling mengurus dirinya masing-masing. Puisi Hari Kiamat yang aslinya dalam bahasa Gayo, Aceh Tengah, diciptakan Tgk Chalidin pada tahun 1945. Penampilan puisi ini dalam seni sya'er telah berpuluh tahun dikembangkan. Tentunya dengan puisi sya'er lainnya yang diciptakan Tgk Chailidin.
Karya Saatra
HARI KIAMAT
Hari kiamat sungguh mengherankan
Semua insan berhati bimbang
Isi dunia porak peranda
Dunia bergerak menggoncang-goncang
Laut dan daratan barat dan timur
Hancur lebur berserakan
Dimana bukit lebih tinggi
Telah runtuh membujur melintang
Telah tergulung langit menimpa bumi
Setiap yang bernyawa merasa gundah gulana
Isi dunia bercampur baur
Campur aduk dengan binatang
Disitulah manusia terkejut
Telah merasa takut dunia bergoyang
Setiap yang bernyawa berhati gundah
Hewan liarpun tak lagi riang
Kesana kemari seluruhnya berlarian
Seperti kupu-kupu terbang melayang
Anak dan bapak tak lagi berkasihan
Tak lagi menentu adik dan abang
Dimana pangkat yang terkenal tinggi
Disana tumpul laksana parang
Dimana dokter yang banyak ilmu
Disana buntu dia mengaku kurang
Hari kiamat menjadi tanda
Akhirat dunia telah terpisah
Ibarat fajar telah merkah
Ingin menjadi batas gelap dan terang
Menurut ayat, Tuhan berfirman
Segala amalan nanti di timbang
Bila timbangan berat kekebajikan
Ke sorga berjalan dengan hati senang
Mungenal nepekah alakmu sempur
Munangkoki baur munarungi uten
Di dalam sorga berbagai rupa
Yang berkenan dihati tak ada yang kurang
Tanaman bunga berbaris merentang
Indah dan cantik mata memandang
Mengenakan pakaian bermacam warna
Intan permata bertabur bintang
Makan buah lezat cita rasanya
Bidadari datang menghidang
Sebagai balasan amal ibadat
Diambil saja tak ada yang kurang
Bila timbangan berat kearah dosa
Ke neraka yang berapi merah
Isi neraka selalu memanggil-manggil
Neraka panas selalu menyerang
Berteriak menjerit tak henti-henti
Tulang dan daging mulai berpisahan
Isi neraka berhati pedih
Tak lagi kasih Tuhan memandang
Karena di dunia dia lupa pada Tuhan
Begitulah Tuhan tak lagi kasihan
Isi neraka merasakan siksa
Isi sorga merasakan senang
