Teungku Chik Pantee Kulu
Dari AcehPedia
Tgk Chik Pantee Kulu nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Pantee Kulu. Tempat tanggal lahirnya adalah di desa Pante Kulu, Kemukiman Kemalawati, di kawasan Kabupaten Pidie, tahun 1251 H (1836 M).
Mula-mula ia belajar ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu (Jawi). Kemudian melanjutkan pelajarannya pada Dayah Tiro yang dipimpin oleh Tgk Haji Chik Muhammad Amin Dayah cut, seorang ulama yang kebetulan baru pulang dari Mekkah. Chik Pante Kulu pernah belajar di Mekkah. Sepulang dari tanah suci beliau menjadi seorang ulama besar, pujangga kenamaan, dan sastrawan nusantara yang mengarang karya sastra yang fonumental "Hikayat Perang Sabil"–sebuah karya sastra jihad yang sanggup membangkitkan semangat rakyat Aceh berperang melawan penjajahan Belanda lebih dari 50 tahun. Hikayat Perang Sabil ditulisnya dalam perjalanan Mekkah-Aceh.
Dia menulis dengan kalam dalam tulisan Arab berbahasa Aceh. Sebagai seorang sastrawan besar Chik Pantee Kulu dengan puisinya yang berbentuk hikayat telah mampu mengangkat harga diri dan marwah anak negeri ini dari jajahan bangsa asing. Hal ini tidak terlepas dari kecermatan dan kejeliannya dalam merasakan dan membaca kondisi dan situasi masyarakat yang secara fisik dan psikologis terikat oleh sistim yang dipasang oleh penjajah.
Sebagai seorang ulama besar karya-karya sastra beliau sangat terpengaruh oleh sastrawan Islam di Zaman Nabi Muhammad. Hikayat Perang Sabil berisikan ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits Nabi yang dipuisikan sehingga beliau mendapat julukan "Penyair Perang" sepanjang zaman terbesar di dunia. Berikut cuplikan Hikayat Prang Sabil:
Karya Sastra
……
Dan jiwamu…dengar kukatakan maknanya kini
Pemberian Tuhan Rabbul Alamin
Pada orang mukmin jalan sejahtera
Lepas dari azab di hari kemudian
Diberikan Tuhan kelak surga
Jannatul Adnin Tuhan namakan
Nikmat nian tiada terkira
Apa yang tergerak dalam hati
Segera nyata ke situ tiba
Kunia Khalik Rabbul Jalil,
Yang berperang Sabil sangat mulia
Bidadari tujuh puluh orang
Khadam sekalian muda-muda
Begitu firman Rabbul Jalil
Jangan diam lagi wahai saudara
Berangkatlah Teungku memerangi kafir
Jangan sayang akan harta
Seluruh harta anda wahai taulan
Dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada
