Tipelogi Hutan Indonesia
Dari AcehPedia
Dilihat dari keanekaragamannya hutan dapat kita digolongkan kedalam beberapa bentuk, hal ini untuk mempermudah bagi tujuan pengelolaan hutan, adapun pembagian tersebut menurut hal-hal berikut ini : susunan jenis; kerapatan tegakan; komposisi umur; dan tipe hutan. Di Indonesia cara yang lebih lazim digunakan untuk tipe hutan ialah pembagian besar berdasarkan formasi hutan, yaitu suatu kelompok vegetasi yang mempunyai bentuk (life form) yang sama. Didasarkan faktor edafis dan iklim, ekosistem hutan Indonesia dapat dibedakan menjadi :
Hutan Payau (mangrove forest)
Dapat dijumpai tersebar di se-panjang pantai yang berlumpur dan dipengaruhi pasang surut air laut dengan luas + 2.450.185 hektar (Wetland, 2002; dalam BAPENAS, 2004).Ciri umum ekosistem ini adalah :
- Tidak terpengaruh iklim;
- Terpenga-ruh pasang surut;
- Tanah tergenang air laut, tanah lum-pur atau pasir, terutama tanah liat;
- Tanah rendah pantai;
- Hutan tidak mempunyai strata tajuk;
- Tinggi pohon dapat mencapai 30 m; dan
- Tumbuh di pantai merupakan jalur.
Hutan Pantai (coastal forest)
Hutan pantai, menyebar di sepanjang pantai yang tidak tergenang oleh pasang surut air laut dengan luas + 3,3 juta hektar. Ciri umum ekosistem ini antara lain adalah : 1) Tidak terpengaruh iklim; 2) Tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung); 3) Tanah rendah pantai; 4) Pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit; dan 5) dapat dijumpai terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi. Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.
- Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
- Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).
Hutan Rawa (swamp forest)
Menyebar sepanjang muara sungai yang selalu atau berkala dipengaruhi limpasan air dari sungai dan air hujan dengan luas + 5.185.500 hektar (BAPPENAS, 2004).Ciri umum hutan ini antara lain adalah : 1) Tidak terpengaruh iklim; 2) Tanah tergenang air tawar; 3) Umumnya terdapat di belakang hutan payau; 4) Tanah rendah; 5) Tajuk terdiri dari beberapa strata; 6) Pohon dapat mencapai tinggi 50 - 60 m; dan 7) umumnya dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan mengikuti sungai-sungai besar.
Hutan Gambut (peat swamp forest)
Umumnya dapat dijumpai di daerah tanah bergambut dengan luas + 16.973.000 hektar (Wetland, 2002; dalam BAPENAS, 2004) . Ciri umum ekosistem hutan ini antara lain adalah : 1) Iklim selalu basah; 2) Tanah tergenang air gambut, lapisan gambut 1 - 20 m; 3) Tanah rendah rata; dan 4) umumnya dapat dijumpai di Kalimantan Barat dan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.Spesies yang terpenting adalah Gonystylus bancanus di Kalimantan dan Camnospermae macrophylum di Sumatera.
Hutan Kerangas
Umumnya tumbuh diatas tanah podsol, tanah pasir dan keras yang sarang, miskin hara dan pH rendah. Ciri umum ekosistem ini antara lain adalah : 1) Iklim selalu basah; 2) Tanah pasir, podsol; dan 3) Tanah rendah rata.Hutan Hujan Tropika (tropical rain forest)
Terdapat di wilayah yang memiliki tipe iklim A atau B, yaitu iklim yang selalu basah, tanah podsol, latosol, aluvial, dan regosol, darainase tanah baik, terletak jauh dari pantai. Tegakan didomonasi oleh pohon-pohon yang selalu hijau, dan tidak menggugurkan daun. Berdasarkan ketinggian tempatnya dari permukaan laut, tipe hutan ini dibagi menjadi tiga zona yaitu:
Zona I : 0-1000 m dpl hutan hujan bawah dengan luas + 65,4 juta hektar,
Zona II : 1000-3300 m dpl hutan hujan tengah dengan luas + 10 juta hektar,
Zona III : 3300-4100 m dpl dinamakan hutan hujan atas dengan luas + 3 juta hektar
Hutan Musim (monsoon forest)
Pohon-pohonnya tahan dari kekeringan dan termasuk tumbuhan tropofit, artinya mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan keadaan basah pada saat musim kemarau (kering), daunnya meranggas, sebaliknya saat musim hujan, daunnya lebat. Hutan musim biasa diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan, misalnya: hutan jati, hutan angsana. Di Indonesia, hutan musim dapat ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdiri dari :
- hutan musim bawah terdapat pada ketinggian 2 - 1000 m dpl. Dengan luas + 17.000 hektar; dan
- hutan musim tengah atas pada ketinggian 1000 - 4000 m dpl.
Hutan Tanah Kapur (Karst)
Terdapat ditanah kapur dengan areal cukup luas sekitar 7,9 juta hektar. Pada kondisi hutan ini biasanya jarang terdapat tanaman, sebab kondisi tanah yang ada tidak mampu menyimpan air dengan baik.Hutan Tepi Sungai (riparian forest)
Arealnya menyebar sepanjang sungai besar, dan vegetasinya merupakan vegetasi rawa musiman, luas areal sekitar 1,1 juta hektar.Tepe hutan seperti ini terdapat diseluruh kawasan perairan sungai yang ada di Indonesia, dan vegetasi yang tumbuh pada daerah ini lebih baik dan subur.

