Tradisi Meugang
Dari AcehPedia
Salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan puasa adalah melaksanakan pemotongan hewan pada satu atau dua hari sebelum bulan puasa. Tradisi pemotongan hewan ini dalam masyarakat Aceh dikenalsebagai meugang atau makmeugang. Nyaris, pada hari meugang, menjadi "kewajiban" budaya bagi orang Aceh ada daging sapi/kerbau di rumahnya sebagai santapan utama pada hari permulaan bulan Ramadhan.Meugang dalam tradisi masyarakat Aceh adalah meyembelih beratus bahkan ribuan ribu ekor lembu, kambing atau karbau bahkan ayam dan bebek dikorbankan.
Dalam tradisi masyarakat Aceh, Tradisi turun temurun tradisi ini dilakukan satu hari menjelang hari menyambut Ramdhan dan perayaan Idul Fitri serta Idul Adha.terdapat tiga kali momentum meugang dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang uroe raya puasa (menjelang hari raya 'Idul Fitri) dan meugang uroe raya haji (menjelang hari rayaIdul Adha). Khusus meugang uroe raya haji tidak sesakral meugang puasadan meugang uroe raya puasa. Sebab, keesokan harinya (selama empat hari berturut-turut) akan ada pemotongan hewan oleh orang-orang kaya untuk dibagikan kepada fakir miskin melalui kewajiban ibadah qurban.
Tradisi pemotongan hewan pada hari meugang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu di Aceh. Di setiap penjuru daerah Aceh terlihat pemandangan penyembelihan hewan secara massal, termasuk di kantor-kantor pemerintah dan swasta. Seakan sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mempersiapkan uang agar dapat membeli daging untuk keluarga pada hari meugang. Biasanya mereka yang mencari nafkah diperantauan akan pulang kampung (mudik) untuk berkumpul bersama keluarga pada hari meugang.
Pada hari-hari biasa, tak banyak masyarakat mendatangi pasar. Tapi, dua hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, dulu warga ramai-ramai datang ke pasar, sehingga ada istilah makmu that gang nyan (makmur sekali pasar itu). Maka, jadilah makmeugang. Tapi, seiring perkembangan bahasa kata itu menjadi meugang.
Meugang dianggap punya nilai religius karena dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan dianggap bulan untuk menyucikan diri. Masyarakat Aceh memegang teguh kepercayaan bahwa nafkah yang telah dicari 11 bulan dinikmati selama Ramadhan sambil beribadah.
Menurut kisah, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya.
“Setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut. Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan meugang. Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang. Menurut sejarah, meugang sudah sangat berakar dengan orang Aceh. Tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.
Filosofi lain bisa dipetik dari tradisi meugang itu, katanya, jika dikaitkan dengan Islam yaitu bentuk syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki “karena orang Aceh sangat kental dengan nilai-nilai keislaman”.
Selain itu, tambahnya, pada hari meugang banyak dermawan membagi-bagikan daging untuk fakir miskin sehingga terbangun interaksi sosial dan kebersamaan. Dengan begitu, semua warga meski berasal dari keluarga tak mampu bisa menikmati masakan daging pada hari istimewa tersebut.
Sudah jadi tradisi, setiap kepala rumah tangga membeli minimal dua atau tiga kilogram daging untuk disantap bersama seisi rumah. Pantang bagi satu keluarga kalau tidak memasak daging pada hari meugang, sementara dari rumah tetangga tercium aroma masakan kari daging, sehingga anak-anak dilarang keluar rumah untuk bermain pada hari meugang.
“Malah, bagi seorang pria yang baru menikah seperti diwajibkan untuk membeli daging minimal tiga kilogram untuk dibawa pulang ke rumah mertuanya. Kalau hal itu tak dilakukan, maka aib bagi mempelai pria dan keluarga tersebut, karena mereka akan malu kepada orang seisi kampung.
“Kalau di pedesaan yang masih kuat adatnya, mempelai pria itu bisa jadi tidak diterima lagi sebagai menantu kalau tak membawa pulang daging. Ada anggapan menarik dalam tradisi ini dimana apabila seorang manantu tidak membawa pulang daging meugang kerumah mertua maka menantu tersebut dianggap lemah dan sang pemuda malang tersebut akan merasa sangat malu. Namun hal ini hanya berlaku apabila sang menantu masih menetap di rumah mertua, akan lain halnya apabila sudah memiliki rumah sendiri, membawa pulang daging meugang bukanlah suatu kewajiban yang akan memalukan bila tidak dilaksanakan.Tradisi turun temurun ini tidak ada yang tahu pasti kapan mulai dilaksanakan namun tujuan dari tradisi ini pada dasarnya disebabkan oleh anggapan daging adalah makanan yang mahal dan tidak menjadi lauk keseharian. Dengan anggapan tersebut maka meugang dilaksanakan 3 kali setahun dengan tujuan semiskin apapun masyarakatnya maka setiap 3 kali setahun maka masyarakat akan menikmati daging tidak peduli mereka memiliki uang atau tidak.
Celakanya harga daging pada saat meugang akan lebih mahal daripada harga pada hari-hari biasa, hal ini tentunya bertolak belakang dengan keinginan sebagian masyarakat miskin yang ingin merasakan daging meugang, namun apabila ada masyarakat yang memang secara ekonomi tidak sanggup membeli daging maka mereka tidak perlu khawatir tidak akan makan daging, karena pasti tetangga atau saudaranya akan mengirimkan daging untuknya walaupun kadang kala bukan daging mentah tapi yang sudah dimasak.
Disini rasa sosial dalam masyarakat Aceh dipertunjukkan, walau kita sudah sangat sibuk sehingga tidak lagi mengenal dengan tetangga sekurang-kurang dalam setahun ada 3 kali waktu yang mengingatkan kita untuk saling berbagi dan peka terhadap lingkungan. Semoga tradisi ini terus berlangsung dan nilai-nilai sosial yang telah ditanamkan oleh orang tua kita tidak luput dimakan perubahan jaman yang sangat kejam ini.
Warga Aceh memiliki tradisi unik menyambut bulan suci Ramadan. Meugang hari—yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama keluarga—diperingati sehari menjelang masuknya bulan suci.
Daftar isi |
Sejarah meugang
Meskipun sulit menemukan suatu sumber ilmiah yang menjelaskan tentang siapa yang menjadi pelopor lahirnya tradisi ini, namun seperti dikisahkan oleh Amir Hamzah (2009) bahwa awal mulanya tradisi meugang ini dilakukan pada masa kerajaan Aceh di bawah raja agung Sultan Iskandar Muda. Darimana asal kata Meugang dan bagaimana sejarahnya? Nama asli dari Meugang tertulis dalam buku Qanun al-asyi adalah Mad Meugang. Artinya, Makmur Sekali Gang Itu (Makmu that gang nyan---red). Istilah itu muncul pada masa Sultan Iskandar Muda, para kepala kampung memajang daging dan memotongnya di gang-gang atau lorong pasar dan di padati banyak orang
Perayaan ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur raja, dan juga untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadhan, maka dilakukanlah pemotongan hewan (lembu dan kerbau) secara besar-besaran dan kemudian dibagikan kepada seluruh rakyatnya. Setelah Aceh dikalahkan oleh Kerajaan Belanda, tradisi ini tidak lagi dikoordinir oleh raja. Namun demikian, karena hal ini telah menjadi sesuatu yang sudah sangat berakar, maka rakyat Aceh dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi damai, krisis ekonomi bahkan dalam kondisi perang sekalipun, meugang selalu dilakukan.
Bahkan tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, karena biasanya daging itu tidak hanya dimasak pada hari meugang semua, namun jaga sebagiannya diawetkan. Dengan daging awetan, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.
Secara garis besar Meugang itu dapat dikatakan sebagai tanda atau bentuk syukur untuk menyambut bulan Ramadhan. Zaman dahulu belum ada alat komunikasi untuk menyampaikan dan menandakan kapan datangnya ramadhan. Sekarang sudah ada pemberitahuan dari pemerintah dan para ulama bahkan ada lembaganya sendiri yang mengatur ketentuan datangnya ramadhan setelah melihat bulan. sedangkan Makna lain adalah bahwa ada beberapa elemen lain yang terkandung dalam perayaan Meugang, menjelang masuknya bulan penuh Rahmat ini, yaitu dilaksanakan secara kekeluargaan (berkumpul bersama keluarga--red). Contohnya, jika ada anak atau menantu yang jauh (merantau--red), dia akan pulang sehari sebelum Meugang. Konsepnya lebih kepada silahturrahmi. Jadi, ndak ada dosa lagi, sudah dihapus semuanya dengan saling meminta maaf dan memaafkan. Selain itu Meugang juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ada solidaritas di sana. Efek solidaritasnya adalah, penguasa (Sultan atau Raja ketika itu---red), memberi sumbangan kepada fakir miskin. Selanjutnya, nilai solidaritas dari membangun rasa kebersamaan dengan makan bersama, dan ada rasa cemas jika salah satu anggota keluarga belum berkumpul di rumah. Selain itu Meugang bermakna ekonomi, sosial juga ritual.
Esensi Meugang
Karena tradisi yang dilakukan tiga kali dalam setahun ini, yaitu pada saat menyambut bulan suci Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan terakhir ketika akan merayakan Idul Adha telah menjadi sesuatu yang mendarah daging sejak tempo dulu, perlu rasanya mengetahui apa pentingnya hari meugang dalam konteks saat ini.
Secara juridis, tradisi ini bukanlah suatu perintah dari agama Islam. Tidak ada satupun ayat Alquran ataupun hadis yang mewajibkan perayaan meugang. Begitu juga sebaliknya tidak ada satupun dalil yang melarang terhadap perayaan tersebut. Namun demikian banyak sekali mashlahah (kebaikan) dan hikmah yang dapat diambil dari parayaan tersebut.
Salah satunya, sebagai perwujudan bentuk rasa syukur kepada Allah swt. Rasa syukur tersebut, kemudian diwujudkan dengan berbagi rezeki dengan keluarga terdekat, tetangga, anak yatim dan orang-orang miskin lainnya. Sehingga hal ini akan menimbulkan rasa kasih sayang, cinta, solidaritas dan silaturrahmi baik antara sesama keluarga maupun umat Islam secara keseluruhan.
Bentuk silaturrahmi tersebut sangat jelas terlihat, ketika pada hari meugang, dengan sebuah keyakinan untuk memuliakan hari meugang tersebut, maka seluruh anggota keluarga, baik yang merantau jauh atau yang bermukim di kampung akan berusaha untuk berkumpul bersama, saling meminta maaf atas kekhilafan dan kesalahan yang dilakukan baik sengaja ataupun tidak sengaja, sambil menikmati hidangan daging yang telah dipersiapkan.
Jadi media hari meugang telah menjadi media untuk mengikat, mempererat dan kemudian saling meminta maaf dan memaafkan atas kesalahan dalam hubungan dengan manusia (hablum minannas), sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Hal lainnya yang paling penting dari perayaan ini, adalah sebuah apresiasi dan sikap gembira, akan datangnya Ramadhan. Bulan yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang beriman, karena beribadah pada bulan ini, lebih baik dari seribu bulan lainnya. Sehingga menyambut bulan ini dengan sebuah perayaan, dengan rasa gembira adalah suatu keniscayaan. Bahkan Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang bergembira, dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah swt haramkan dirinya dari api neraka”.
Sayangnya, dalam konteks sosial, politik dan pembangunan. Masih banyak yang belum memahami dari esensi perayaan meugang ini. Tradisi ini seharusnya tidak hanya dipahami sebagai sebuah tradisi keagamaan dan budaya an sich semata. Namun seharusnya mesti terefleksi dalam realitas dan praktik kehidupan. Ide meugang yang dipelopori oleh sang Raja bijak kala itu, yang bertujuan untuk membagi daging kepada seluruh rakyatnya, khususnya anak yatim dan fakir miskin, belum mampu dipahami oleh “sang raja” hari ini.
Masih banyak anak yatim-piatu dan kemiskinan akibat konflik dan tsunami, mereka masih sulit mendapatkan jatah daging meugang dari dana pengentasan kemiskinan, dan berbagai dana pembangunan lainnya, sehingga mereka mampu melepaskan diri dari kemiskinan dengan setumpuk “daging meugang” tersebut.
Meskipun dengan hal itu mereka tidak bermimpi untuk menjadi orang kaya baru di Aceh, namun minimal dengan daging meugang itu mereka tidak perlu lagi mengemis ketika bulan Ramadhan tiba. Mereka tidak perlu lagi masuk keluar hutan untuk mencari kayu bakar yang kemudian dijual untuk sesuap nasi. Cukuplah masa Ramadhan itu untuk beribadah dan bertaqarrub kepada sang pencipta, Allah swt.
Sapi Aceh, daging sapi pilihan saat meugang
Semiskin-miskinnya orang Aceh, pasti akan mengusahakan tradisi meugang terlaksana. Agak berat bagi mereka yang miskin memang, karena dalam tradisi tersebut, masakan berbahan daging sapi lazimnya ada di atas meja. Tapi pasti mereka akan mengusahakannya dengan sangat.
Karena permintaan yang drastic pada beberapa hari tersebut, maka harga daging local naik bisa sampai dua kali lipatnya. Pada hari-hari biasa, harga daging berkisar di angka 55.000, saat meugang, 100.000 pun dibeli
Dalam keadaan tersebut, produsen daging sapi dari luar Aceh pastinya tergiur dengan harga tersebut. Tapi sayangnya, hanya daging sapi Aceh yang diminati. Sapi Aceh memiliki kadar lemak yang rendah. Jelas karena asupan pakan yang diberikan berbeda dengan fedloter yang sangat komersil. Sapi-sapi di Aceh dilepas begitu saja. Tidak ada asupan konsentrat ini itu dengan komposisi sekian persen seperti yang fedloter lakukan. Hasilnya, kadar lemak sapi rendah sehingga rasanya lebih nikmat.
Terutama di kampung-kampung, sapi dibebaskan berkeliaran begitu saja tanpa ada yang menjaga. seperti dikampung Pante Raja, sebuah kampung di bilangan Aceh Pidie. Pemandangan yang wajar kalau kita sedang bersantai-santai di teras depan rumah kemudian ada sapi yang lewat. Sapi yang lewat berikutnya meninggalkan bekas di jalan yang pastinya akan membuat seorang lelaki yang hendak bertamu ke rumah kekasihnya turun derajat kepercayaan dirinya kalau tidak hati-hati melangkah. Tabiat sapi tersebut sudah biasa.
Tradisi Tukar menukar makanan saat Meugang
Tradisi meugang di Aceh memang sangat kental sekali dengan kekeluargaan, dari jaman dulu turun-temurun sampai sekarang pasti setiap tahunnya uroe meugang itu ada. Walaupun masyarakat ada yang miskin sekalipun pasti mereka akan merasakan daging meugang itu baik mereka beli sendiri ataupun tetangga akan memberikan kepada mereka, walaupun sedikit.
Tradisi yang lainnya seperti lemang, itu kayaknya seperti wajik ya, lemang, tape, ketupat juga. Dari ibu-ibu masak-masaknya juga akan diberikan ke tetangga, ke famili, ataupun ke fakir miskin.
Setiap tahunnya setelah meugang, masak-masakan yang khas tadi, juga ini, pergi ke pantai ramai-ramai sama keluarga, sama sanak saudara lainnya untuk merayakan besoknya puasa dan malamnya taraweh ya. Walaupun lelah pulang dari pantai tapi ada rasa kenikmatan sendiri untuk menyambut Ramadhan.
Selain uroe meugang, masyarakat Aceh juga memasak makanan seperti ketupat, tape dan lemang. Ketiga masakan tersebut merupakan hidangan khas pendamping daging yang dimasak dalam bermacam-macam menu. Memasuki hari kedua masyarakat pergi ke pantai atau ke tepi sungai untuk menyantap masakan, berkumpul bersama keluarga. Selain itu ada juga yang pergi ke makam keluarga untuk berziarah. Tak ada orang Aceh yang tidak tahu apalagi yang tidak menjalani tradisi tersebut.
Tidak ada yang melarang tradisi melanjutkan atau melakukan tradisi meugang ini. Dan tidak ada benturan di agama maupun tradisi, semua dilakukan beriringan untuk meneruskan tradisi nenek moyang dan tradisi meugang merupakan yang sulit/tidak boleh dihilangkan. Oleh orang tua-tua, nenek-nenek kita, orang tua empat untuk mempersiapkan supaya bisa menghadapi bulan suci Ramadhan ini dengan begitu senang. Sehingga membuat dengan bermacam tradisi. Berarti kalau sudah mengadakan tradisi yang seperti itu, bertanda orang muslim yang mau menyambut bulan suci Ramadhan ini dengan hati yang senang. Sudah nampak ikhlas persiapan dirinya untuk menyambut bulan suci Ramadhan.
Puasa itu menahan diri dari hal-hal yang membukakan puasa, termasuk makanan dan minuman, untuk bisa siap menghadapi bulan suci Ramadhan maka dibuatkanlah beramai-ramai di hari meugang untuk makan yang enak-enak. Misalnya di Aceh itu dengan makanan daging yang memang kadang kala kalau kita lihat dengan standar kemampuan manusia, ada yang jarang makan daging. Ada bahkan yang tidak pernah makan daging, misalnya orang fakir miskin.
Tapi di hari meugang ini, dengan ada tradisi yang seperti itu, bahkan orang miskin dapat makan daging. Apakah dengan santunan orang-orang kaya atau orang-orang yang berhak memberikan kepadanya. Sehingga orang miskinpun bisa merasakan bagaimana yang dirasakan oleh orang kaya. Itulah yang dibuat oleh orang tua kita, nenek tua kita, tradisi.
Nah untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan yaitu dengan budaya mempersiapkan makanan-makanan. Misalkan seperti di kampung ada sebuah tradisi mengadakan beras yang lebih, membuat makanan-makanan berbuka puasa, dan juga mempersiapkan yang lain-lainnya. Meski uroe megang dianggap makan daging tahunan, tapi dalam tradisi ini warga saling tukar menukar masakan, menjamu tamu bahkan memberikan hidangan daging kepada fakir miskin atau anak yatim.
sumber
