Tradisi perkawinan di Aceh

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari
Pernikahan Adat Aceh

Upacara Adat Perkawinan Aceh terdiri dari beberapa tahapan-tahapan yaitu:


Daftar isi

Tahapan melamar (Ba Ranup)

Aceh adalah salah satu sukubangsa asal1) di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Di sana mereka tersebar di Kabupaten: Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, sebagian Aceh Timur, sebagian Aceh Barat, sebagian Aceh Selatan, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang. Mereka menyebut dirinya “Ureueng Aceh” yang berarti “Orang Aceh”. Sebagaimana masyarakat suku bangsa lainnya di Indonesia, masyarakat Aceh juga menumbuhkembangkan berbagai tradisi sebagai simbol jatidirinya.

Ba Ranup merupakan suatu tradisi turun temurun yang tidak asing lagi dilakukan dimana pun oleh masyarakat Aceh, saat seorang pria melamar seorang perempuan. Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang dirasa bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud maka terlebih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu.

Pada hari yang telah disepakati datanglah rombongan orang-orang yang dituakan dari pihak pria ke rumah orangtua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya (ranub kong haba). Setelah acara lamaran selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.

Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa, maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang dirasa bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud, maka terlebih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu.

Pada hari yang telah disepakati, datanglah rombongan orang-orang yang dituakan dari pihak pria ke rumah orangtua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya. Setelah acara lamaran selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.

Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba, yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar uang mahar yang diterima (disebut jeunamee) dan berapa banyak tamu yang akan diundang.


Tahapan Pertunangan (Jakba Tanda)

Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar uang mahar yang diterima (disebut jeunamee) yang diminta dan berapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda). Pada acara ini, pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria.


Pada acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun bila ikatan ini putus di tengah jalan yang disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang. Tetapi kalau penyebabnya adalah pihak wanita maka tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.


Persiapan Menjelang Perkawinan

Seminggu menjelang akad nikah, masyarakat aceh secara bergotong royong akan mempersiapkan acara pesta perkawinan. Mereka memulainya dengan membuat tenda serta membawa berbagai perlengkapan atau peralatan yang nantinya dipakai pada saat upacara perkawinan. Adapun calon pengantin wanita sebelumnya akan menjalani ritual perawatan tubuh dan wajah serta melakukan tradisi pingitan. Selam masa persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing mengenai cara hidup berumah tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.

Selain itu akan dialksanakan tradisi potong gigi (disebut koh gigoe) yang bertujuan untuk meratakan gigi dengancara dikikir. Agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi. Setelah itu calon pengantin melanjutkan dengan perawatan luluran dan mandi uap.

Selain tradisi merawat tubuh, calon pengantin wanita akan melakukan upacara kruet andam yaitu mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih lalu dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (disebutboh gaca) yang akan menghiasi kedua tangan calon pengantin. Daun pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah yang terlihat alami.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengadakan pengajian dan khataman AlQuran oleh calon pengantin wanita yang selanjutnya disebut calon dara baro .Sesudahnya, dengan pakaian khusus, Calon dara Baroe mempersiapkan dirinya untuk melakukan acara siraman (disebut seumano pucok) dan didudukan pada sebuah tikar yaitu tikaduk meukasap.

Dalam acara ini akan terlihat beberapa orang ibu akan mengelilingi Calon dara Baroe sambil menari-nari dan membawa syair yang bertujuan untuk memberikan nasihat kepada Calon dara baroe. Pada saat upacara siraman berlangsung, Calon dara Baroe akan langsung disambut lalu dipangku oleh nye’wanya atau saudara perempuan dari pihak orang tuanya. Kemudian satu persatu anggota keluarga yang dituakan akan memberikan air siraman yang telah diberikan beberapa jenis bunga-bungaan tertentu dan ditempatkan pada meundam atau wadah yang telah dilapisi dengan kain warna berbeda-beda yang disesuaikan dengan silsilah keluarga.


Upacara Akad Nikah dan Antar Linto

Pada hari H yang telah ditentukan, akan dilakukan secara antar linto (mengantar pengantin pria). Namun sebelum berangkat kerumah keluarga Calon Dara Baroe, calon pengantin pria yang disebut calon linto baro menyempatkan diri untuk terlebih dahulu meminta ijin dan memohon doa restu pada orang tuanya. Setelah itu Calon Dara Baroe disertai rombongan pergi untuk melaksanakan akad nikah sambil membawa mas kawin yang diminta serta bingkisan yang diperuntukan bagi Calon Dara baroe

Sementara itu sambil menunggu rombongan Calon Dara Baroe tiba hingga acara ijab Kabul selesai dilakukan, Calon Dara Baro hanya diperbolehkan menunggu di kamarnya. Selain itu juga hanya orangtua serta kerabat dekat saja yang akan menerima rombongan Calon Dara Baroe. Saat akad nikah berlangsung, ibu dari pengantin pria tidak diperkenankan hadir tetapi dengan berubahnya waktu kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin pria bisa hadir saat ijab kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat menghadiri acara jamuan besan yang akan diadakan oleh pihak keluarga wanita.

Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga Calon Dara Baroe akan menyerahkan jeulamee yaitu mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain adat dan paun yakni uang emas kuno seberat 100 gram. Setelah itu dilakukan acara menjamu besan dan seleung bu linto/dara baro yakin acara suap-suapan di antara kedua pengantin. Makna dari acara ini adalah agar keduanya dapat seiring sejalan ketika menjalani biduk rumah tangga.


Busana Adat Pengantin Aceh

Sebagaimana masyarakat suku bangsa lainnya di Indonesia, mereka juga menumbuhkembangkan pakaian tradisional (adat) sebagai simbol jati dirinya. Salah satu diantaranya adalah pakaian yang dikenakan oleh pengantin laki-laki (Peukayan Linto Baro) dan pengantin perempuan (Peukayan Dara Baro) dalam upacara perkawinan, dimana bagian-bagian dari kedua pakaian tersebut tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga makna simbolik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.


1. Busana Pengantin Laki-laki (Peukayan Linto Baro)

Busana yang dikenakan oleh pengantin laki-laki terdiri atas: tutup kepala/kopiah (kupiah meukeutob), baju (bajee), celana (siluweue), kain sarung/songket (ija krong), senjata, sepatu dan hiasan-hiasan (aksesoris) lain. Dengan perkataan lain, busana pengantin laki-laki terdiri atas 3 bagian, yaitu: atas, tengah, dan bawah. Sedangkan, perhiasan yang dikenakan terdiri atas: taloe jeuem (seuntai tali jam yang terbuat dari perak sepuh yang disepuh emas); boh ru bungkoih (sejenis hiasan yang terdiri dari buah eru/cemara dan buah pinang muda); dan rencong (senjata tradisional orang Aceh). Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian dan kelengkapannya.

a. Busana Bagian Atas

Busana yang dikenakan oleh pengantin laki-laki pada bagian atas adalah kopiah (kupiah meukeutob). Kopiah ini bentuknya seperti topi bangsa Turki yang dililiti dengan kain tengkuluk, yaitu kain yang kain yang berukuran 95 x 95 cm, terbuat dari sutera berwarna merah hati, kuning, hijau atau hitam. Kain ini penuh dengan hiasan motif-motif pucuk rebung (pucok reubong), bunga tanjung (bungong kupula), bunga cabai (bungong campli), bungong melur (bunga meulu), bungong geuti, bungong tron, bungong puteng, tali air (taloe ie) dan iris wajik. Kain ini bagian atasnya dilipat sedemikian rupa sehingga berbentuk ban.Sedangkan, bagian belakangnya membentuk segitiga yang kedua ujungnya mencuat ke atas sehingga berbentuk piramid atau tumpak. Topi juga dihiasi dengan tampuk kopiah berbantuk bintang segi-delapan yang terdiri dari tiga tingkatan. Tampuk ini terbuat dari emas dan masing-masing pipa yang berbentuk silinder disematkan permata ceylon putih. Sedangkan, pada bagian puncak disematkan permata ceylon warna merah dan bentuknya agak besar. Hiasan lain yang terdapat pada topi yaitu hiasan rumbai-rumbai (prik-prik) yang terbuat dari emas serta permata yang terdiri dari empat bagian (tingkat yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan rantai emas sehingga berbentuk secara keseluruhannya seperti daun sukun).

b. Busana Bagian Tengah

Busana bagian tengah berupa jas lengan panjang yang berkerah Cina dan berkancing dua buah (baje kot). Pada leher bagian depan, saku dan ujung tangan dihiasi sulaman benang emas dengan motif pucuk rebung. Pada bagian lubang kancing disulam dengan benang emas bermotif daun berpucuk tiga yang masing-masing menjalar ke kiri dan ke kanan. Kancing terbuat dari emas yang berbentuk buah eru (boh ru), atau piramid dengan bentuk piligram. Pada salah satu lubang kancing disematkan perhiasan tali jam yang berbentuk rantai dan mempunyai mainan yang bermotif ikan. Kemudian, pada pinggangnya diselipkan sebilah senjata tusuk, yaitu “siwaih” atau “reuncong merupeucok” yang biasanya bertatahkan emas dan permata. Pemakaian topi dan senjata pada pengantin laki-laki mempunyai arti simbolis yang sama, yaitu menunjukkan sikap keperkasaan.

c. Busana Bagian Bawah

Busana bagian bawah berupa celana (siluweue) yang pada umumnya terbuat dari kain katun dan wol warna hitam. Bagian bawah celana ini agak melebar dan diberi sulaman ragam hias benang emas dengan motif pilin tali yang berbentuk pucuk rebung. Celana yang diberi ragam hias pada ujung kaki ini disebut “siluweue meutunjong”. Bagian pinggang celana ini dililitkan kain sarung songket sutera yang disebut ija krong sampai batas kira-kira 10 cm di atas lutut.

d. Perhiasan

Perhiasan atau atau aksesoris yang dikenakan oleh pengantin laki-laki, sebagaimana telah disebutkan di atas, terdiri atas: taloe jeuem, boh ru pineung, dan Reuncong. Taloe jeuem adalah seuntai tali jam yang terbuat dari perak sepuh emas. Tali ini terdiri dari rangkaian cincin-cincin kecil yang berbentuk rantai dengan hiasan ikan (dua ekor) dan satu bentuk kunci. Pada kedua ujung rantai terdapat kait berbentuk angka delapan. Cara memakainya disangkutkan pada baju adat di bagian dada. Sedangkan, kait lainnya dipergunakan untuk mengakait jam yang berbentuk bulan.

Boh ru bungkoih adalah sejenis hiasan yang terdiri dari boh ru (buah eru/cemara) dan boh pineung muda (buah pinang muda). Buah tersebut diukir sedemikian rupa sehingga bentuknya seperti pilar gantung di bangunan rumah tradisional Aceh.Boh ru diikatkan pada kain pembungkus yang biasanya terbuat dari kain sutera.

Reuncong (Rencong) adalah senjata tradisional Aceh. Senjata ini bentuknya menyerupai huruf L. Rencong termasuk dalam kategori dagger/belati (bukan pisau ataupun pedang). Rencong ini yang digunakan oleh Raja atau Sultan biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya). Sedangkan, rencong-rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau atau kayu (sarungnya) dan kuningan atau besi putih (belatinya).


2. Busana Pengantin Perempuan (Peukayan Dara Baro)

Sebagaimana busana yang dikenakan oleh pengantin laki-laki, busana yang dikenakan oleh pengantin perempuan juga terdiri atas tiga bagian, yaitu: atas, tengah, dan bawah. Sedangkan, perhiasan yang dikenakan lebih banyak macamnya ketimbang perhiasan yang dikenakan oleh pengantin laki-laki. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian dan kelengkapannya.

a. Busana Bagian Atas

Busana bagian atas yang dikenakan oleh pengantin perempuan adalah culok ok (tusuk sanggul). Apa yang disebut sebagai culok ok banyak macamnya. Ada yang terbuat dari lempengan tembaga dengan bentuk menyerupai rangkaian bunga yang bersusun tiga dan bintang pecah delapan yang pada sisinya terdapat ukiran motif bunga dengan sebuah permata di bagian puncaknya; dan ada pula culok ok yang bentuknya menyerupai bunga cempaka. Culok ok ini bagian puncaknya (sari) berbentuk per yang ujungnya diberi ada permata ceylonnya (6 butir). Ada juga culok ok yang bentuknya sama (menyerupai bunga cempaka), tetapi sarinya diberi 9 butir permata ceylon. Selain itu, ada tusuk sanggul yang disebut ceukam sanggoy. Tusuk sanggul ini juga terbuat dari tembaga tetapi motifnya bunga tanjung yang terdiri dari sembilan tingkat yang dirangkai pada sebuah lempengan yang melengkung dengan sederet rangkaian bunga.

b. Busana Bagian Tengah

Busana bagian tengah yang dikenakan oleh pengantin perempuan berupa baju lengan panjang. Baju ini berkerah dan bagian depannya diberi boh dokma . Biasanya baju ini tidak bersulam. Pada zaman dahulu terbuat dari tenunan tradisional dengan benang sutera. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, baju pengantin ini lebih banyak terbuat dari kain sejenis planel atau beludru yang berwarna merah. Di bawah baju tersebut dililitkan kain sarung songket (ija krong sungket) yang menutupi sebagian celana dan baju. Untuk mengencangkan kain ini pengantin perempuan memakai seuntai tali pinggang (taloe ki ieng) yang terbuat dari emas dan perak. Tali pinggang ini terkenal dengan sebutan “tali pinggang patah sembilan” (taloe ki ieng patah sikureueng).

c. Busana Bagian Bawah

Busana bagian bawah yang dikenakan oleh pengantin perempuan biasanya berupa celana yang terbuat dari kain planel/katun (dulu dari tenunan benang sutera). Celana yang kedua ujungnya disulam dengan benang emas/perak.yang bermotif suluran daun, pucuk rebung dan bunga tabur uang ini disebut “siluweue meutunjong”.

d. Perhiasan

Perhiasan yang dikenakan oleh pengantin perempuan bermacam-macam, yaitu: patam dhoe, subang pinto aceh, subang bungong mata uroe, taloe keutab lhee lapeh, keureusang, peuniti, simplah, taloe kiieng, ikay, gleung joroe, gleueng jaroe pucok reubong, euncien pinto aceh, dan gelang kaki. Untuk lebih jelasnya berbagai jenis perhiasaan itu akan diuraikan berikut ini.

Patam dhoe adalah salah satu perhiasan yang diletakkan di dahi. Perhiasan ini berbentuk seperti mahkota yang bagian tengahnya diukir dengan motif tumpal dan sulur daun. Perhiasan yang beratnya 160 gram ini terbuat dari emas 24 karat dan lima butir serkonia putih. Pada bagian kiri dan kanannya dihiasi dengan motif pohon, daun, dan bunga berbentuk hati. Sementara, bagian tengahnya diukir piligram berbentuk kaligrafi dengan tulisan Allah dan Muhammad (motif ini disebut bungong kalimah) yang dilingkari dengan ukiran motif bulatan-bulatan kecil dan bunga. Sebagai catatan, apabila pengantin perempuan telah mengenakan perhiasan ini berarti sejak saat itu ia telah dinobatkan sebagai isteri yang sah, terlepas dari tanggung jawab orang tuanya, dan telah resmi membentuk rumah tangganya sendiri.

Subang pinto aceh adalah sepasang subang atau anting-anting yang terbuat dari emas 22 karat. Subang ini bermotif boh eungkot (bulatan-bulatan kecil seperti telur ikan) yang diilhami oleh bentuk pintu rumah tradisional masyarakat Aceh. Pada bagian bawahnya diberi rumbai-rumbai yang berbentuk rantai sebagai hiasan tambahan.

Subang bungong mata uroe (sabang bunga matahari)adalah sepasang subang yang terbuat dari emas dan permata. Motif subang ini menyerupai bunga matahari. Ujung kelopaknya yang runcing terdiri dari beberapa bagian. Bagian atas berupa lempengan berjumlah 16 helai dengan bentuk matahari yang ditengahnya diberi hiasan beberapa buah batu permata (dimasukkan ke dalam pipa-pipa yang disebut eumpung mata/kuk anam). Pada bagian tengah terdapat sari bunga yang disebut “dadamon”. Dan, pada bagian bawah disebut bingke

Taloe Takue Bieng Meuih adalah seuntai kalung yang terbuat dari emas. Kalung ini terdiri dari satu rantai dengan tujuh keping hiasan (6 keping berbentuk hati dan satu keping berbentuk kepiting).

Euntuek Bungong Ranub adalah kalung yang terbuat dari emas dengan motif buang sirih (bungong ranub). Sedangkan, euntuek ajeumat (kalung azimat) adalah kalung manik-manik dengan motif boh bili. Kalung ini pada bagian tengahnya digantungkan sebuah azimat yang terbuat dari emas dengan ukiran motif bunga dan daun yang diberi cawardi.

Keutab lhee lapeh (kalung tiga lapis) adalah kalung yang terbuat dari perak sepuh emas. Bentuknya menyerupai bulan sabit bersusun tiga yang satu dengan lainnya dihubungkan dengan rantai. Setiap susun diukir dengan motif bungong urot (suluran) dan tengahnya diberi permata merah delima.

Keureusang (bross)adalah perhiasan dada yang disematkan di baju perempuan. Perhiasan ini terbuat dari emas yang bertatahkan intan dan berlian. Bentuk keseluruhannya seperti hati dan dihiasi dengan intan dan berlian sejumlah 102 butir. Keureusang ini digunakan sebagai penyemat baju atau seperti peniti di bagian dada. Oleh karena perhiasan ini merupakan barang mewah, maka biasanya yang memakainya adalah orang-orang tertentu

Peuniti adalah seuntai peniti yang terbuat dari emas. Peniti ini berbentuk tiga buah hiasan bermotif pinto aceh yang dibuat dengan ukiran piligram dan dijalin dengan motif bentuk pucuk pakis dan bunga. Pada bagian tengahnya terdapat motif boh eungkot (bulatan-bulatan kecil seperti telur). Peniti ini disamping sebagai perhiasan, juga sekaligus sebagai penyemat baju

Simplah adalah suatu perhiasan dada untuk perempuan yang terbuat dari perak sepuh. Simplah terdiri dari 24 buah lempengan segi enam dan dua buah lempengan segi delaman. Setiap lempengannya dihiasi dengan ukiran motif daun dan bunga serta permata merah di tengahnya. Lempengan-lempengan tersebut dihubungkan dengan dua untai rantai dengan ukuran panjang sekitar 51 cm dan lebar 5 cm. Cara pemakaiannya dengan digantungkan pada kedua pundak dengan cara menyilang di bagian dada dan punggung

Taloe kiieng adalah seutas tali pinggang yang terbuat dari perak sepuh emas. Tali pinggang ini terdiri dari sepuluh lempengan, yang masing-masing dihubungkan dengan sistem engsel. Bentuk lempengan masing-masing persegi empat panjang. Lempengan yang paling ujung berbentul oval diberi kait untuk menyangkutkannya pada lubang lempengan yang paling akhir dan siap untuk dipakai.

ikay adalah sebuah gelang tangan terbuat dari emas, suasa dan perak. Bentuknya seperti lingkaran sebuah roda. Bagian dalam (dasar) terbuat dari lempengan perak, sedangkan bagian luarnya atau atas dilapisi suasa dan emas dengan ukiran motif putar tali dan bungong tanjung. Gelang ini dipakai pada bagian atas dari siku. Di daerah Gayo dan Alas gelang ini disebut “keheng”.

Gleung jaroe adalah sebuah kelang tangan yang terbuat dari emas dan permata. Gelang ini terdiri dari lima rantai yang saling terkait dan masing-masing rantai dihubungkan pada dua lempengan emas. Pada bagian pinggir sebelah depan dihiasi dengan ukiran motif pucuk rebung. Kedua bagian pangkal penghubung diberi ukiran suluran dan disematkan masing-masing sisi lima butir permata. Sedangkan, bagian badan diberi motif bungong kupula (bunga tanjung) yang bersemat sebutir permata.

Gleueng jaroe pucok reubong adalah sepasang gelang tangan yang terbuat dari perak sepuh. Gelang ini terbagi atas dua bagian yang dihubungkan dengan sistem engsel. Bagian atas berupa ukiran piligram dengan motif tumpal dan kaligrafi (bungong, kalimah) bertuliskan “Allah” yang melingkari sekeliling gelang tersebut. Gelang ini dipakai pada kedua belah tangan. Motif bungong kalimah ini hanya terdapat pada perhiasan-perhiasan yang mewah.

Euncien pinto aceh (cincin pintu aceh) adalah sebuah cincin yang terbuat dari emas dengan hiasan motif pintu aceh. Motif ini dibuat dengan ukiran terawang bermotifkan pucuk pakis dan bunga. Pada bagian tengah terdapat motif boh eungkot (telur ikan). Motif ini diilhami dari bentuk pintu rumah Aceh yang sekarang dikenal sebagai motif ukiran khas Aceh.

Gleueng gaki (gelang kaki) adalah satu-satunya perhiasan yang dikenakan pada kaki kaki kiri dan kanan. Gelang ini terbuat dari tembaga berlapiskan perak sepuh. Pada kedua bagian ujungnya agak pipih dan saling bertindih. Gelang ini dihiasi dengan motif pilin tali dengan teknik cane intan (menggunakan jalur-jalur yang mengkilap). T.J. Veltman, menyebutkan gelang ini dengan nama “gleueng meusagoe” (gelang bersegi).


Upacara Peusijeuk

Yaitu dengan melakukan upacara tepung tawar, memberi dan menerima restu dengan cara memerciki pengantin dengan air yang keluar dari daun seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, on seukee pulut, on gaca dan lain sebagainya minimal harus ada tiga yang pakai. Acara ini dilakukan oleh beberapa orang yang dituakan (sesepuh) sekurangnya lima orang.

Tradisi ini berasal dari India (agama Hindu) yang telah beradaptasi dengan agama Islam. Dikalangan ureungchik (orang yang sudah tua dan sepuh) budaya seperti ini merupakan tata cara adat yang mutlak dilaksanakan dalam upacara perkawinan.


Makanan yang wajib ada saat Pesta Perkawinan Aceh

Dalam upacara perkawinan Aceh, makanan kecil atau kue-kue tidak boleh ditinggalkan adalah buluekat dengan tumpo (ketan), manok panggang (ayam panggang), buleukat dengan pisang teu peungat atho kaya (ketan dengan srikaya), dodoi (dodol), wajek, halua, meuseukat, thimpan serta kue-kue kering yang disebut reumok tho, kekarah, kembang goyang (kembang loyang bhoi/bolu) bungong kaye (bunga kayu), sedangkan lauk-pauk yang biasa dihidangkan pada pesta anatara lain :

1.Gule boh panah (gule nagka khas Aceh)

2.Masak keuruema/masak puteh (masak semacam opor)

3.Shie masak mirah (daging masak merah)

4.Seumur Aceh

5.Engkot tumeh (ikan tumis khas Aceh)

6.Engkot masam keung (ikan masam asam pedas)

7.Udeung tumeh (tumis udang khas Aceh)

8.Shie cuka (daging masak cuka)

9.Sambai gureng ate (sambal goreng ati)

10.Boh itek jruek (telur bebek asin)

11.Boh reuteuk crah (tumis kacang panjang)

12.Dan lain-lain


sumber

http://www.aamcatering.com/menuadat/71-aceh

Sulaiman, Nasryuddin dkk. 2000. Pakaian dan Perhiasan Pengantin Etnis Aceh. Aceh: Departemen Pendidikan Nasional.

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools