Uroe Pajoeh-pajoeh

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Uroe Pajoeh-pajoeh Tradisi Sambut Ramadan

PAJOEH-pajoeh merupakan sebuah tradisi yang sudah berurat di kalangan masyarakat Pantai Barat Aceh menyambut bulan suci ramadan. Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kegiatan makan-makan dirayakan, satu hari sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Satu hari menjelang ibadah puasa sepertinya warga ingin makan sampai puas dengan mendatangi lokasi-lokasi wisata terkenal daerah itu. Mereka membawa beragam makanan dan masakan guna disantap bersama anggota keluarga di tepi pantai laut dan tepian aliran sungai yang menjadi sasaran kunjungan.

Makanan dari nasi lengkap dengan bermacam menu, terutama dari daging kerbau, sapi atau ayam. Ada pula makanan selingan, antara lain, leumang, leupek (timpan), ketupat, tape lengkap dengan rujak, lontong atau pecal. Beragam jenis makanan tersebut sudah dipersiapkan ibu rumah tangga sehari sebelumnya atau pada sore makmeugang. Biasanya makanan dalam jumah wah itu dinikmati bersama anggota keluarga pada tengah hari (siang) setelah puas mandi-mandi di aliran sungai atau laut di lokasi. Sekelompak anak-anak yang bersuka ria, berlarian di atas hamparan pantai laut atau deburan ombak merupakan pemandangan sangat mengasyik bagi orangtua pada uroe pajoeh-pajoeh.

Uroe meugang puasa, berlanjut dengan perayaan uroe pajoeh-pajoeh sangat bermakna bagi masyarakat pantai barat, meliputi Kabupaten Abdya, Aceh Selatan, Aceh Barat, Nagan Raya, termasuk Aceh Singkil. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya dalam jumlah lumayan besar untuk memenuhi kebutuhan meugang dan uroe pajoeh-pajoeh. Jelang meugang dan prosesi makan-makan, kepala rumah tangga sibuk bukan main dan kerja keras untuk mendapatkan biaya membeli daging kerbau atau sapi, paling tidak mendapatkan seekor ayam untuk dicicipi bersama seluruh anggota keluarga. Tidak jarang, ada yang rela meminjam dana kepada orang lain untuk membeli sekilo daging atau seekor ayam.

Harga daging yang dijual pedagang pada hari meugang puasa kadang-kadang relatif tinggi. Harga daging yang melambung tidak menjadi halangan bagi kepala rumah tangga membeli daging. Pada uroe makmeugang, ibu-ibu rumah tangga sibuk memasak beragam jenis makanan dengan bahan dominan dari daging sebagai persiapan pada uroe pajoeh-pajoeh. Bagi pasangan pengantin ada seharusan yang tidak tertulis. Mantu laki-laki sudah menjadi tradisi membawa pulang daging meugang ke rumah mertuanya. Bila sang mantu dengan kondisi ekonomi agak mapan tidak segan-segan membawa pulang satu kepala atau satu paha kerbau atau sapi dengan harga mencapai jutaan ke rumah mertuanya.

Para toke atau juragan harus mampu menyediakan dana dalam jumlah besar untuk kebutuhan meugang bagi anak buahnya. Biasanya menjelang meugang, anak buah akan meminjam dana dalam jumlah tertentu dan itu menjadi kewajiban sang bos untuk memenuhinya. Sanking bermakna dan istimewa oroe meugang, bagi anggota keluarga dekat, terutama anak yang berada di perantauan harus pulang kampung untuk berkumpul bersama orang tua. Ini dilakukan agar dapat bersama-sama menikmati beragam jenis makanan yang telah dimasak sang bunda. Merupakan sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata bila seluruh anggota dapat berkumpul bersama-sama merayakan meugang dan pajoeh-pajoeh di kampung halaman.

sumber

http://m.serambinews.com/news/view/12115/uroe-pajoeh-pajoeh-tradisi-sambut-ramadan
Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools